Kabar5News – Dalam tayangan Air Crash Investigation, peristiwa yang terjadi pada penerbangan British Airways BA009 menjadi salah satu contoh bagaimana abu vulkanik dapat mengancam keselamatan penerbangan.
Pesawat British Airways dengan nomor penerbangan BA009 yang berangkat dari Bandara Heathrow tanggal 23 Juni 1982 menuju Perth jalur yang dilalui melewati India, Malaysia dan akhirnya Australia. Pada 24 Juni 1982 malam hari pada ketinggian 37.000 kaki atau sekitar ketinggian 11 km pesawat tanpa disadari melewati abu vulkanik dari Gunung Galunggung saat melewati rute menuju Perth dari Kualalumpur.
Keempat mesin pesawat tersebut mengalami kegagalan, terlihat sinar seperti listrik statis di kaca jendela dan di sayap, api terlihat di mesin pesawat. Dalam situasi terebut, pilot menghubungi Jakarta, bandara terdekat, “Jakarta Control, this is Speedbird 9, we have lost all four engines” -Speedbird adalah sebutan untuk british airways-, lalu mengumumkan kepada penumpang bahwa pesawat sedang dalam masalah kecil dan penumpang diminta untuk tetap tenang.
Dengan kondisi ke empat mesin mati pilot berusaha untuk menghidupkan mesin, pesawat saat itu sudah di ketinggian 10.000 kaki, Mesin sempat menyala dalam proses mendekati bandara di Jakarta, namun ketegangan tidak berhenti di situ, pada saat hendak mendarat, pilot tidak bisa melihat apapun, kaca depan pesawat buram seperti berkabut, pada saat itu pilot tidak menyadari bahwa kaca pesawat tersebut sudah rusak karena abrasi abu vulkanik.
Pesawat itu mendarat dengan selamat di Jakarta.
Tiga minggu kemudian pesawat Singapore Airlines mengalami hal serupa terkena abu vulkanik Gunung Galunggung, mengalami problem pada dua mesinnya, dan mendarat darurat di Jakarta.
Ini adalah pertama kalinya dalam dunia aviasi diketahui bahwa abu vulkanik bisa sangat berbahaya untuk penerbangan. Sebelumnya dianggap sebagai hazard biasa. Namun debu vulkanik ini meskipun lembut berisi batu dan kaca yang bisa sangat berbahaya untuk mesin pesawat.
Peristiwa ini kemudian mengubah standar keamanan yang berlaku untuk seluruh aviasi dunia terhadap penanganan debu vulkanik.
Indonesia sebagai negara dengan banyak gunung berapi yang aktif dan frekuensi erupsinya yang relatif sering membuat potensi gangguan jadwal penerbangan tinggi sekali begitu ada gunung yang erupsi. Seperti peristiwa Ketika Gunung Anak Krakatau erupsi Sabtu (5/9/2026). Tercatat delapan bandara ditutup untuk mengantisipasi keselamatan penerbangan.
8 bandara tersebut adalah:
- Bandara Soekarno-Hatta (Tangerang, Banten)
- Bandara Halim Perdanakusuma (Jakarta)
- Bandara Radin Inten II (Lampung)
- Bandara Husein Sastranegara (Bandung, Jawa Barat)
- Bandara Budiarto (Curug, Tangerang)
- Bandara Pondok Cabe (Tangerang Selatan)
- Bandara Taufik Kiemas (Pesisir Barat, Lampung)
- Bandara Atung Bungsu (Pagar Alam, Sumatera Selatan).
Dalam lima tahun terakhir setidaknya ada lima penutupan bandara akibat erupsi gunung berapi, penutupan Bandara International Minangkabau akibat erupsi gunung Marapi (2023-2024), Bandara Abdurahman Saleh Malang akibat Erupsi Gunung Sumeru (2024), Bandara International Sam Ratulangi Manado akibat erupsi Gunung Ruang (2024), Bandara Gewayana dan Bandara Frans Seda akibat erupsi gunung Lewotobi Laki Laki (2024-2025) dan delapan Bandara akibat erupsi Gunung Anak Krakatau.
Artikel ini ditulis oleh: Yoega Diliyanto, S.E












