Kabar5News – Batagor menjadi salah satu kuliner khas Bandung, Jawa Barat, yang populer di berbagai daerah di Indonesia. Perpaduan tahu, adonan ikan, dan bumbu kacang membuat makanan ini digemari berbagai kalangan. Namun, di balik popularitasnya, ada sosok H. Isan yang dikenal sebagai salah satu perintis batagor di Kota Kembang.
Perjalanan H. Isan memperkenalkan batagor berawal dari usaha sederhana. Ia merantau untuk mencari penghidupan dan berjualan bakso tahu keliling. Dari persoalan dagangan yang tidak habis terjual, muncul ide pengolahan yang kemudian berkembang menjadi salah satu ikon kuliner Bandung.
Profil H. Isan, Perantau Asal Purwokerto
H. Isan berasal dari Purwokerto, Jawa Tengah, sebelum merantau ke Bandung untuk mencari penghidupan yang lebih baik. Ia tidak langsung memulai usaha besar, melainkan berjualan bakso tahu kukus dengan cara berkeliling menggunakan pikulan.
Perjalanan membangun usahanya tidak selalu mudah. Dagangan yang tersisa menjadi tantangan karena bakso tahu kukus tidak dapat bertahan lama. Namun, situasi tersebut justru mendorong Isan mencari cara agar dagangannya dapat dimanfaatkan.
Nama H. Isan kemudian melekat dengan perkembangan batagor Bandung. Usaha yang dirintisnya tumbuh dan diteruskan oleh keluarga, menjadikan namanya bagian dari sejarah kuliner legendaris di kota tersebut.
Sejumlah laporan menyebutkan H. Isan meninggal dunia pada 2010 dalam usia 79 tahun. Jika keterangan usia tersebut akurat, ia diperkirakan lahir sekitar 1931. Meski demikian, tanggal dan tahun kelahirannya belum terkonfirmasi melalui sumber biografi yang kuat sehingga perkiraan tersebut perlu diperlakukan secara hati-hati.
Berawal dari Bakso Tahu Keliling
Sekitar 1968, H. Isan berjualan bakso tahu kukus di kawasan Gang Situsaeur, Bandung. Pada masa itu, ia menghadapi persoalan ketika dagangannya tidak habis terjual. Agar makanan tersebut tidak terbuang, ia mencoba mengolahnya dengan cara menggoreng.
Olahan itu ternyata disukai orang-orang di sekitarnya. Makanan yang awalnya dibuat untuk memanfaatkan sisa dagangan justru menarik minat pembeli. Dari sinilah batagor, singkatan dari bakso tahu goreng, mulai dikenal sebagai sajian khas yang berbeda dari bakso tahu kukus.
Kisah tersebut memperlihatkan bagaimana sebuah ide sederhana dapat membuka peluang usaha. H. Isan memanfaatkan bahan yang tersedia dan mengubah cara pengolahannya hingga menghasilkan makanan dengan tekstur renyah di luar dan cita rasa gurih.
Dari Usaha Sederhana Menjadi Kuliner Legendaris
Batagor kemudian berkembang melampaui kawasan tempat H. Isan pertama kali berjualan. Makanan ini semakin mudah ditemukan, mulai dari gerobak kaki lima hingga rumah makan dan pusat perbelanjaan.
Popularitasnya juga melahirkan beragam variasi. Ada batagor yang disajikan dengan bumbu kacang kental, tambahan kecap dan jeruk limau, hingga versi kuah yang menawarkan sensasi berbeda.
Meski terus mengalami perkembangan, perpaduan olahan ikan, tahu, dan bumbu kacang tetap menjadi ciri khas batagor yang dikenal masyarakat. Kuliner ini pun menjadi salah satu makanan yang sering dicari wisatawan saat berkunjung ke Bandung.
Warisan Rasa yang Diteruskan Keluarga
Perjalanan Batagor H. Isan tidak berhenti pada generasi perintisnya. Keluarga meneruskan usaha tersebut sekaligus menjaga sejumlah cara pengolahan tradisional agar cita rasanya tetap dikenal.
Dalam laporan detikJabar pada Agustus 2026, Fakhri Hidayat, cucu H. Isan sekaligus generasi ketiga penerus usaha, menjelaskan bahwa bumbu kacang tradisional masih dibuat dengan cara diulek, bukan sekadar diblender. Penggunaan kemasan besek juga menjadi bagian dari tradisi yang dipertahankan.
Di sisi lain, penyesuaian dilakukan agar produk tetap relevan dengan kebutuhan konsumen masa kini. Penggunaan kemasan vakum dan keikutsertaan dalam festival kuliner menjadi salah satu cara memperkenalkan batagor kepada pasar yang lebih luas.
Upaya tersebut menunjukkan bahwa menjaga warisan kuliner bukan berarti menolak perubahan. Tradisi dapat tetap dipertahankan sambil menyesuaikan cara penyajian dan pemasaran dengan perkembangan zaman.
Batagor Mendapat Perhatian Pencinta Kuliner Dunia
Batagor juga mendapat perhatian dari pencinta kuliner internasional. Dalam pembaruan Agustus 2026, TasteAtlas menempatkan batagor di posisi teratas daftar Top Southeast Asian Deep-Fried Dishes dengan skor 4,4.
Peringkat tersebut didasarkan pada penilaian pengguna platform dan mekanisme penilaian TasteAtlas, sehingga tidak dapat dianggap sebagai ukuran mutlak yang mewakili seluruh selera masyarakat. Meski begitu, pencapaian tersebut menunjukkan daya tarik batagor di luar Indonesia.
Di tingkat daerah, batagor juga memperoleh pengakuan sebagai bagian dari kekayaan budaya kuliner. Situs Bandung Mirasa menyebut batagor telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda tingkat Provinsi Jawa Barat pada Januari 2025.
Jejak H. Isan dalam Sejarah Kuliner Indonesia
Kisah H. Isan menunjukkan bahwa kuliner legendaris tidak selalu lahir dari usaha besar atau perencanaan yang rumit. Batagor berkembang dari pengalaman seorang perantau yang berusaha mencari penghidupan dan menemukan cara baru untuk mengolah dagangannya.
Kini, batagor bukan sekadar makanan yang identik dengan Bandung, tetapi juga bagian dari kekayaan kuliner Indonesia. Warisan yang diteruskan keluarga H. Isan menjadi bukti bahwa kreativitas dan ketekunan dapat membuat usaha sederhana bertahan lintas generasi.











