Kabar5News – Fenomena benda jatuh dari langit sering menarik perhatian masyarakat. Di Indonesia, sejumlah objek antariksa dan meteorit telah ditemukan di berbagai wilayah, mulai dari Gorontalo, Lampung, Bengkulu, hingga Kalimantan.
Sampah antariksa adalah bagian roket peluncur atau satelit yang tidak berfungsi lagi dan mengorbit Bumi. Jumlahnya saat ini mencapai belasan ribu, sehingga potensi kejatuhannya ke permukaan Bumi tetap perlu dipantau.
Temuan Sejak 1981
Salah satu dokumentasi paling awal mencatat tabung bahan bakar roket yang jatuh di Gorontalo pada 16 Maret 1981. Setelah dianalisis berdasarkan waktu dan lokasi, objek tersebut diidentifikasi sebagai bagian roket SL-8 milik Uni Soviet/Rusia.
Tujuh tahun kemudian, pada 16 April 1988, tabung bahan bakar bekas roket juga ditemukan di Lampung. Objek tersebut teridentifikasi sebagai bagian roket SL-4 milik Uni Soviet/Rusia.
Meteorit Brebes 1998
Selain sampah antariksa, Indonesia juga pernah mengalami kejadian jatuhnya meteorit. Pada 9 Maret 1998, meteorit seberat sekitar 10,5 kg ditemukan di sawah Desa Tegal Glagah, Kecamatan Bulakamba, Brebes.
Warga mengaku mendengar suara gemuruh dari langit dan melihat kilatan api saat meteorit jatuh. Di lokasi penemuan ditemukan lubang berdiameter 1,25 meter dengan kedalaman 2,5 meter.
Jejak Roket dari Berbagai Negara
Pada 13 Oktober 2003, pecahan badan roket ditemukan di Bengkulu. Analisis orbit menunjukkan objek tersebut berasal dari roket CZ-3 milik RRT yang digunakan untuk meluncurkan satelit DFH-3 1.
Pada 26 September 2016, beberapa objek antariksa jatuh di perairan Madura. Objek tersebut diidentifikasi sebagai bagian roket Falcon 9 milik SpaceX Amerika Serikat.
Setahun kemudian, dua objek antariksa ditemukan di dua lokasi berbeda di Sumatera Barat. Keduanya teridentifikasi sebagai pecahan roket CZ-3A milik RRT.
Objek yang Terbawa Arus Laut
Pada 4 Januari 2021, warga menemukan objek berlogo CNSA atau Chinese National Space Administration di pantai Kalimantan Tengah. Objek tersebut awalnya diduga bagian roket RRT yang jatuh pada awal Januari.
Setelah analisis lebih lanjut, objek tersebut dikonfirmasi sebagai payload fairing atau pelindung muatan satelit roket Long March/CZ-8. Bagian fairing dilepas sebelum roket mencapai orbit, lalu jatuh di perairan dekat Selat Karimata dan terbawa arus laut hingga terdampar di pantai Kalimantan Tengah.
Pemantauan yang Terus Berlanjut
Pada 30 Juli 2022, sampah antariksa roket CZ-5B milik RRT dilaporkan jatuh di Samudera Hindia. Namun, analisis lintasan orbit menunjukkan pecahannya berpotensi tersebar dari Sumatera bagian selatan hingga Kalimantan Barat.
Sebuah objek logam yang diduga pecahan badan roket kemudian ditemukan di Sanggau, Kalimantan Barat. Laporan warga juga mencatat kemunculan objek terang di langit Lampung dan Serawak.
Fenomena ini menunjukkan bahwa Indonesia bukan hanya lokasi potensi jatuhnya sampah antariksa, tetapi juga wilayah yang perlu memiliki kemampuan pemantauan. Sistem pemantauan berbasis data orbit dan analisis lokasi menjadi penting untuk mengidentifikasi objek yang jatuh di wilayah Indonesia.












