Kabar5News – Marah Rusli (1889–1968) sastrawan berasal dari Minangkabau, merupakan salah satu tokoh penting dalam kesusastraan Indonesia modern. Bersama karyanya yang monumental, ia menancapkan tonggak awal angkatan Balai Pustaka. Namun, citranya sering kali hanya terbatas pada satu mahakarya, yakni “Siti Nurbaya: Kasih Tak Sampai” (1922).
Lahir di kota Padang pada 7 Agustus 1889, Marah Rusli memiliki latar belakang pendidikan yang jauh dari bidang sastra. Ia lulus dari Sekolah Dokter Hewan (Vee Artsen School) di Bogor pada tahun 1915 dan mengabdi sebagai dokter hewan hingga pensiun.
Kisah kehidupan pribadinya juga mencerminkan tema yang sering ia angkat dalam novelnya: konflik antara adat dan modernitas. Marah Rusli, yang seorang bangsawan Minang, memilih untuk menikahi seorang gadis Sunda dari Bogor pada tahun 1911, sebuah keputusan yang seringkali ditentang oleh tradisi adat Minangkabau yang kuat. Pengalaman pribadi inilah yang menjadi sumber inspirasi utama bagi tema-tema karya sastranya.
Siapa yang tidak mengenal novel roman “Siti Nurbaya”. “Siti Nurbaya” bahkan menjelma menjadi semacam budaya populer Indonesia, menjadi simbol atas pernikahan paksa yang merupakan nilai-nilai budaya yang dianggap kolot.
Sampai-sampai “Siti Nurbaya” pernah diadaptasi menjadi versi film serinya yang tayang di TVRI pada era 90an. Diperankan oleh Novia Kolopaking sebagai Siti Nurbaya, Gusti Randa sebagai Syamsul Bahri dan HIM Damsyik sebagai Datuk Maringgih.
Meski demikian “Siti Nurbaya” bukanlah karya besar satu-satu dari ayahanda seniman Harry Rusli ini. Ada satu sastra roman yang menjadi karya terakhir darinya. Roman itu berjudul “Memang Jodoh”.

“Memang Jodoh” ditulis pada awal tahun 1960-an, sebagai hadiah untuk istrinya, Raden Ratna Kencana, pada momen ulang tahun ke-50 pernikahan mereka (1961)..
Uniknya, “Memang Jodoh” baru diterbitkan pada tahun 2013, lebih dari 50 tahun setelah ditulis dan lama setelah Marah Rusli wafat. Penerbitannya sesuai dengan wasiat Marah Rusli, yang meminta agar “Memang Jodoh” diterbitkan setelah semua karakter yang menjadi inspirasi dalam roman itu meninggal dunia.
Karya satu ini bersifat semi autobiografis, menjadi semacam anti-tesis bahwa semua kisah roman cinta di Ranah Minang harus berakhir tragis seperti dalam “Siti Nurbaya”.
Menceritakan pemuda asal Padang bernama Hamli, yang memilih untuk melawan adat dengan menikahi seorang gadis di luar suku dan kampung halamannya yakni Bogor. Perjuangan dan keberanian Hamli dalam mempertahankan cinta sejatinya itu berujung pada kebahagiaan, meskipun melalui rintangan yang sulit.












