Kabar5News – Gelaran Piala Dunia 2026 masih belum usai, tanpa disadari orang tua sering mengajak serta anak-anak menonton pertandingan sepak bola di depan televisi sampai begadang terlalu larut.
Kebiasaan tersebut memang bagus untuk meningkatkan kedekatan maupun kebersamaan antara anak dan orang tua. Tapi, perlu diingat dengan membiasakan begadang bisa memberikan dampak serius.
Anak bukan hanya rentan lemas atau rasa kantuk berat saat aktivitas di keesokan harinya, tapi juga ada akibat buruk lain yang berakibat tidak baik jika dibiarkan saja.
Pendapat Ahli Terkait Kebiasaan Begadang Pada Anak
Dokter Spesialis Anak Konsultan Mayapada Hospital Jakarta Selatan, dr. Citra Radhita mengutarakan bahwa saat anak tidur bukan hanya terlelap saja, tapi masih ada aktivitas yang bekerja di otaknya.
“Saat tidur, otak tetap aktif menjalankan berbagai proses, termasuk memperkuat koneksi antarsel saraf, memproses informasi yang diperoleh sepanjang hari, serta mendukung kemampuan belajar dan pengaturan emosi,” ungkapnya, dikutip dari Kompas, Jumat (17/7/2026).
Waktu tidur yang tidak maksimal dapat mempengaruhi aktivitas anak sehari-hari seperti cepat lelah, sulit konsentrasi, daya tahan tubuh berkurang, emosi cenderung sensitif. Bahkan tumbuh kembang anak dapat terganggu karena berkurangnya porsi tidur.
Pembagian Waktu Tidur Anak Menurut Usia
Lebih lanjut, dr. Citra Radhita mengungkapkan bahwa kebutuhan tidur anak berbeda-beda pada setiap usia, sebab fungsi tubuh dan otak masih tahap berkembang.
Berikut pembagian jam tidurnya:
• Anak usia prasekolah butuh waktu tidur sekitar 10-14 jam.
• Anak usia sekolah perlu waktu 9-11 jam.
• Remaja membutuhkan waktu 8-10 jam.
Kalau kebutuhan waktu tidur tersebut tidak terpenuhi, anak terkena gangguan konsentrasi, mudah lelah, suasana hati berubah, kemampuan belajar menurun.
Sementara itu, Dokter Mayapada Hospital Bandung, dr. Eddy Fadlyana mengungkapkan kalau momen Piala Dunia 2026 bisa dipakai sebagai sarana mempererat hubungan anak dengan orang tua.
Namun, pada satu sisi kalau begadang dilakukan rutin sampai ganggu kebutuhan tidur harian. Kesehatan fisik dan perkembangan kognitif anak terganggu dalam jangka panjang.
“Orangtua tetap perlu menjaga keseimbangan agar perubahan jadwal tidur tidak mengganggu pola alami tubuh anak dalam mengatur waktu tidur dan aktivitas,” tuturnya.











