Kabar5News – Setiap tanggal 9 Februari, Indonesia memperingati Hari Pers Nasional (HPN). HPN bertepatan dengan hari ulang tahun Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) yang terbentuk pada tahun 1946.
Namun, jauh sebelum organisasi profesi ini lahir, napas jurnalisme di tanah air telah lama berdenyut sebagai instrumen perlawanan dan penyambung lidah rakyat di tengah belenggu kolonialisme.
Dunia pers di Indonesia bermula dari lembaran-lembaran berita milik pemerintah kolonial Belanda dan komunitas Tionghoa. Namun, memasuki awal abad ke-20, semangat nasionalisme mulai merembes ke dalam tinta para penulis lokal.
Pada fase ini, pers bukan sekadar media informasi, melainkan “senjata” untuk membangkitkan kesadaran berbangsa.
Paska kemerdekaan, peran pers semakin krusial. Dalam pertemuan di Surakarta pada 9 Februari 1946, para wartawan berkumpul untuk menyatukan visi dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia.
Momen inilah yang kemudian dikukuhkan melalui Keputusan Presiden Nomor 5 Tahun 1985 sebagai Hari Pers Nasional, sebuah bentuk penghormatan atas peran strategis insan pers dalam pembangunan bangsa.
Bapak Pers Indonesia
Berbicara tentang sejarah pers Indonesia tidak lengkap tanpa menyebut nama Raden Mas Djokomono Tirto Adhi Soerjo. Ia adalah sosok pribumi pertama yang mendirikan surat kabar dengan modal dan pengelolaan sepenuhnya di tangan orang Indonesia asli.
Melalui surat kabar Sunda Berita (1903) dan kemudian Medan Prijaji (1907), Tirto melakukan revolusi dalam cara berpikir masyarakat. Beberapa kontribusi pentingnya meliputi:
• Medan Prijaji menjadi wadah pertama di mana rakyat jelata bisa mengadukan ketidakadilan yang dilakukan oleh pejabat kolonial maupun bangsawan lokal.
• Ia memopulerkan penggunaan bahasa Melayu (cikal bakal bahasa Indonesia) agar informasi dapat diakses oleh khalayak yang lebih luas, bukan hanya kaum elit.
• Tirto tidak hanya menulis berita, ia juga memberikan bantuan hukum kepada pembacanya. Ia percaya bahwa pers harus menjadi “pengawas” jalannya pemerintahan.
Atas jasa-jasanya, Tirto Adhi Soerjo dianugerahi gelar Bapak Pers Indonesia pada tahun 1973 dan diangkat sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 2006.
Kini, di tengah gempuran arus informasi digital dan fenomena fake news, semangat yang dibawa oleh para pelopor pers terdahulu harus tetap menyala.
Hari Pers Nasional bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan pengingat bahwa tugas jurnalis adalah mencari kebenaran, menjaga integritas, dan tetap menjadi pilar keempat demokrasi












