Kabar5News – Sebuah kisah inspiratif datang dari Pak Kholil, orang Asli Madura tepatnya Bangkalan yang sukses membuka usaha resto Griddle and Rice di Philadelphia, Amerika Serikat.
Sebut saja Pak Kholil, pria usia 50 tahun ini sudah 25 tahun stay di Amerika yang awalnya bekerja beragam profesi hingga pada 1 Mei 2025 memutuskan untuk membuka usaha resto Griddle and Rice, berhasil viral mampu membukukan pendapatan miliaran rupiah per bulan.
Menu makanan yang disajikan tentu saja asli Indonesia mulai dari bakwan, cilok, gorengan, lontong sayur, ayam geprek, iga bakar, bebek madura, dan menu khas Nusantara lainnya.

Begitu juga dengan minumannya, tersedia aneka menu kopi, matcha, hachica yang cita rasanya benar-benar asli banget
Lantas, seperti apa sepak terjang Kholil asli Madura yang sukses punya resto viral hingga tembus omset milyaran rupiah di Amerika? Simak ulasan singkat berikut, melansir dari YouTube Bennix dikutip pada Senin (6/1/2026).
Latar Belakang Owner Ke Amerika Serikat

Kholil lahir di Madura, lulus SD ikut orang tua transmigran ke Jakarta. Berani berangkat hingga memutuskan stay ke Amerika karena keadaan, ingin perubahan, dan punya challenge.
Bahkan, ia saat itu tidak bisa berbahasa Inggris. Tapi berkat kegigihan serta didikan orang tua yang kuat, akhirnya bisa survive sampai sekarang.
“Enggak sama sekali, zero ( bahasa Inggris). Saya dari kampung SD di Madura. Di Madura mana ada pelajaran Bahasa Inggris. Tapi orang tua itu tanamin ke kita yang dijaga itu akhlak sama budi pekerti yang baik, Insya Allah jalannya itu gampang gitu,” ungkap Kholil.

“Selalu respect sama orang tua siapapun, kalau yang lebih tua kita harus tetap respect. Berani kesini awal mulanya karena keadaan, merasa saya itu orang biasa-biasa saja di Jakarta,” imbuhnya.
Orang tua Kholil sendiri punya bengkel di Jakarta, tapi sekarang yang meneruskan adik. Sebab, Kholil ingin ada perubahan, ia memutuskan terbang ke Amerika tahun 2001.
“Orang tua punya bengkel (bengkel mobil) di daerah Priuk sana. Sampai sekarang diterusin adik, cuma karena saya kan mau punya perubahan, punya challenge. Akhirnya 2001, saya 25 tahun,” ujarnya.
Owner Sempat Kerja Double Job Hingga Tukang Tambal Ban
Awal bekerja di Amerika sempat ambil double, dari sore sampai tengah malam. Lalu, pagi hingga sore begitu seterusnya.
“Saya kerja di pabrik pasta, dia kayak bikin salad. Ini pasta kayak di pack-packing gitu. Kerja di tempat itu 8 jam sehari, kerjanya itu sore second ship sampai tengah malam, setelah itu pulang, lalu kerja lagi jam 06.00 pagi di pabrik daging tempat berbeda,” jelasnya.
Semua pekerjaan di sana sudah pernah dicoba oleh Kholil, mulai pabrik hingga tambal ban.
“Aku udah nyobain semua kerjaan di sini. Pabrik udah, daging, pasta, apapun, toko buku (warehouse), kayak baju-baju itu juga sudah pokoknya semua sudah sampai tambal ban pun yang aku nambal di pinggir jalan, bikin car wash cuci mobil, ngelap mobil,” tuturnya.
Awal Mula Buka Usaha Resto Griddle and Rice
Griddle and Rice yang ada di Philadelphia, Amerika Serikat didirikan 1 Mei 2025, tapi sudah laris manis disukai bule-bule di sana.
“Saya di sini sudah 25 tahun, selama datang kesini sudah di Philadelphia. Restoran ini baru start tahun lalu, tepatnya di tanggal 1 Mei,” ungkapnya.
Resto tersebut beroperasi melalui kerjasama bersama adik, teman baik, dengan main poin adalah Kholil dan istri sendiri.
“Kita buka spot ini sama adik dan couple teman. Main poinnya aku sama istri, karena aku sadar diri udah umur. Jadi aku ajak adikku sama best friendnya dia, ucapnya.
Restoran yang kini laris manis dikunjungi customer tersebut merupakan wujud nyata dari mimpi para pendirinya. Ternyata, setelah satu tahun berjalan memang sesuai apa yang diimpikan.
“Alhamdulillah restoran saya ini sesuai apa yang kita mimpikan. So far setahun ini kita punya mimpi South East Asia ini kan bukan cuma Vietnam. Orang taunya cuma Thailand, Malaysia, Kamboja, Filipina. Kita kok nggak ada, akhirnya kita punya pikiran, ayo kita buka breakfast, brunch, lunch, dinner” kata Kholil.
“Ada kopi, matcha, hachica, masukin tim jadi satu. Alhamdulillah keterima,” imbuhnya.
Pakai Nama Ibu untuk Perusahaannya
Nama perusahaan (PT) restoran yang didirikan Kholil memakai nama ibunya. Karena ia percaya bahwa ada filosofi keajaiban di dalamnya, sejak dulu ketika sang ibu masih hidup setiap kali berjualan selalu laris manis.
“Ibuku tuh kayak punya magnet, kayak jualan apapun dia mesti laris. Makannya aku percaya, ini nama PT nya aku namain ibuku. PT Rohaya,” ungkapnya.
Sementara itu, untuk Griddle and Rice berasal dari Grill (alat nge gril) yang besar sebagai main poinnya orang Amerika dan Rice (nasi) untuk memancing orang, ada grill sama nasi saat pagi.
“Banyak makan nasi pagi-pagi itu, nih iga bakar, pancake, lontong sayur, bubur yang abang-abang jual itu, bandeng presto, bebek madura hitam, nasi campur, semua dimakan sama orang sini,” ujarnya.
Menu memang berubah-ubah, tapi orang yang selalu makan (simple way) pasti setiap hari selalu tersedia. Bahkan customernya 80% bule.
Menu Asli Indonesia dengan Bahan Impor
Selain menu tersebut, ada juga ayam geprek, cilok, noodle, hingga aneka minuman khas Indonesia dengan sebagian bahan ada impor juga, karena di sana langka.
“Kayak noodle aku bikin sendiri di sini, ayam geprek dengan sambal diatasnya juga banyak yang makan. Cilok dua tusuk Rp180.000, karena di Amerika itu dagingnya 8 Dollar per pound,” tuturnya.
“Lontong sayur itu harganya hampir Rp300.000, karena lontongnya sendiri dari Indo sudah mahal, plastiknya nggak ada, nggak kayak di Indonesia,” sambungnya.
Sedangkan dari sisi minuman yang paling hype ada kopi susu gula aren, strawberry matcha. Strawberry diimpor dari Jepang, begitu juga gula arennya tetap impor.
Omset Tembus 3M dalam Satu Bulan
Menurut penuturan owner, dalam satu hari saja bisa kedatangan 200 sampai 300 tamu. Jika dihitung-hitung, sehari bisa tembus 5000 Dollar alias hampir Rp 100 juta.
Nominal tersebut sebanding dengan besaran pajak yang harus dibayarkan, di sana jauh lebih tinggi dari Indonesia.
Keberhasilan tersebut bukan soal rasa saja, melainkan pelayanan terbaik yang dihadirkan yakni memberlakukan semua customer merasa selalu dihargai.
“Karena orang Amerika, semakin kamu ‘hai’ sama mereka. Mereka tuh anggap kita itu wah ini banget gitu loh, apalagi sampai kenal namanya. Walaupun di seberang ada yang buka lebih enak lagi, nggak akan berpaling. Karena udah brother nih,” jelasnya.










