Kabar5News – Mantan Dubes Indonesia untuk Polandia, Peter F. Gontha kritik media barat dalam memberitakan Indonesia terkait kondisi ekonomi.
Bias muncul dalam artikel terbaru yang diterbitkan The Economist tentang ekonomi Indonesia hingga memancing gelombang pesimis dari sebagian besar masyarakat.
Belum lama ini, Peter F. Gontha dalam akun Facebook nya mengkritisi salah satu media barat yang menggiring narasi tidak seimbang.
“Indonesia berhak mendapatkan analisis yang adil, bukan narasi yang sudah ditentukan oleh pimpinan redaksi “The Economist” di New York,” tulis Peter F. Gontha yang ditulis huruf kapital semua sebagai judul untuk postingannya di FB.
Politikus Partai Nasdem ini mengkritisi artikel terbaru The Economist yang menggambarkan negara Indonesia dengan sudut pandang sempit dan sangat negatif, bikin masyarakat makin resah.
“Sebuah artikel terbaru yang diterbitkan oleh The Economist mengenai ekonomi Indonesia telah menimbulkan keprihatinan serius di kalangan banyak masyarakat Indonesia yang merasa bahwa negara ini digambarkan melalui sudut pandang sempit dan terlalu negatif,” tulisnya.
Sosok Pembuat Berita dengan Narasi Negatif Tentang Ekonomi Indonesia
Lebih lanjut, Peter menyorot tajam kualitas pemberitaan internasional yang dilakukan oleh dua jurnalis muda sangat tidak seimbang, tidak merefleksikan kebijaksanaan dan objektivitas.

“Artikel tersebut ditulis oleh dua jurnalis yang relatif muda, Aaron Connelly dan Ethan Wu, yang terkait dengan liputan Internasional The Economist,” ungkapnya.
“Hal ini secara alami menimbulkan pertanyaan yang sah dan penting: apakah kompleksitas sebuah negara sebesar, sepenting dan sedinamis Indonesia membutuhkan pemahaman historis yang lebih mendalam, pengalaman kawasan yang lebih luas, dan perspektif yang lebih seimbang dibandingkan apa yang tercermin dalam artikel tersebut?,” jelasnya.
Ia juga menyoroti tentang usia jurnalis sebenarnya tidak masalah, entah itu muda atau berpengalaman. Namun, artikel yang dituliskan berbuah kritik tajam jika berisikan narasi tidak seimbang terlalu menyudutkan, yang positif tidak diangkat hingga mempengaruhi psikologi masyarakat luas.
“Usia muda sebenarnya bukan persoalan. Banyak jurnalis muda menghasilkan karya luar biasa. Pengalaman panjang pun tidak selalu menjamin kebijaksanaan atau objektivitas,” jelasnya.
“Namun ketika sebuah tulisan mengenai negara dengan hampir 300 juta penduduk tampak sangat condong pada pesimisme, sementara banyak penjelasan penting dari pejabat senior Indonesia justru tidak dimuat, maka kritik terhadap pemberitaan tersebut menjadi sepenuhnya wajar,” terangnya.
Penjelasan Terkait Kebijakan Ekonomi Indonesia Tidak Muncul dalam Artikel
Isi dalam artikel tidak ada satupun kalimat memaparkan kebijakan ekonomi Indonesia yang disampaikan oleh Purbaya Yudhi Sadewa saat wawancara dengan awak media.
“Dalam wawancara tersebut, pengambil kebijakan ekonomi Indonesia, Purbaya Yudhi Sadewa, dikabarkan menjelaskan banyak hal penting: cadangan devisa Indonesia, posisi transaksi berjalan, tekanan dolar global, kebijakan fiskal, pendanaan program ketahanan pangan, ketahanan makroekonomi hingga strategi jangka panjang pemerintah,” tulisnya.
Peter kembali menegaskan bahwa tulisan tentang beberapa hal penting tersebut malah tidak ada sama sekali dalam artikel.
Pengusaha 78 tahun ini dalam postingannya mengungkapkan bahwa artikel hanya menyoroti seputar kekhawatiran politik, kecemasan pasar, pergantian Menteri Keuangan sebelumnya, Sri Mulyani Indrawati yang bertahun-tahun lamanya dekat dengan kebijakan yang disukai IMF dan Bank Dunia.
Peter juga menambahkan bahwa Indonesia sebenarnya sudah tidak memiliki ketergantungan pada program IMF, segala kewajiban lunas, sudah keluar dari kerangka ekonomi luar negeri.
“Padahal Indonesia telah berkembang jauh melampaui masa ketergantungan terhadap program-program IMF. Indonesia telah melunasi kewajiban pada IMF dan secara sadar memilih keluar dari ketergantungan jangka panjang terhadap kerangka ekonomi yang diarahkan dari luar negeri,” tulisnya.
Kebijakan Indonesia Saat Ini Tidak Sesuai Ortodoksi Ekonomi Barat Tradisional
Indonesia diketahui sedang menempuh jalur pembangunan berbeda dari kebijakan ortodoksi ekonomi barat tradisional. Sebagaimana diungkapkan oleh Peter F.Gontha.
“Indonesia sedang menempuh jalur pembangunan yang berbeda menekankan hilirisasi industri, ketahanan pangan, pengelolaan sumber daya strategis, penguatan pasar domestik, kemandirian nasional jangka panjang,” jelasnya.
“Kebijakan seperti ini mungkin tidak selalu sesuai dengan ortodoksi ekonomi Barat tradisional, tetapi bukan berarti kebijakan tersebut salah atau tidak bertanggung jawab,” sambungnya.
Pentingnya Jurnalis Membangun Narasi Seimbang
Kritik tajam yang dilontarkan Peter merupakan sesuatu sah dalam demokrasi, bersifat sehat dan perlu.
Apalagi menyangkut pemberitaan internasional yang mempertaruhkan nama negara serta membawa pengaruh besar bagi masyarakat, maka perlu adanya analisa seimbang sebelum dipublikasikan.
“Yang menjadi pertanyaan adalah: Apakah artikel tersebut sejak awal memang sudah dibangun dengan narasi tertentu? Apakah Indonesia benar-benar dianalisis secara seimbang? Ataukah tujuan utamanya hanya memperkuat kecemasan pasar dan menciptakan sensasi?,” imbuhnya.
Ia kembali menekankan bahwa Indonesia memang memiliki hak untuk mendapat pengawasan dan kritik yang adil. Tetapi, juga mempunyai hak terhadap kejujuran intelektual, konteks utuh serta keseimbangan pemberitaan.
“Negara sebesar dan sepenting Indonesia tidak dapat direduksi menjadi narasi selektif yang ditulis dari perspektif editorial yang jauh dan belum tentu memahami sepenuhnya realitas politik, ekonomi, sejarah, dan sosial bangsa ini,” tuturnya.
Sebagai penutup, mantan Dubes Indonesia untuk Polandia ini mengingatkan pentingnya akan jurnalisme yang seimbang.
“Jurnalisme yang seimbang membangun kredibilitas. Narasi negatif yang selektif justru merusaknya,” pungkasnya.












