Oleh: Yoega DIliyanto (Pemerhati Ekonomi, Mantan Aktivis 98)
Kabar5News – Pada tanggal 21 Mei 2026, JP Morgan menerbitkan sebuah artikel yang ditulis oleh Dr Sarah Kapnick, kepala penasihat global untuk masalah iklim energi dan keragaman hayati di JP Morgan. Judulnya cukup membuat kita patut khawatir, “Intuisi Iklim: Ketahanan pangan di bawah tekanan: Gangguan akibat konflik di Iran dan fenomena El Niño yang mulai datang”, dalam tulisan itu setidaknya ada tiga hal yang menjadi perhatian
1. Konflik di Iran dapat menganggu ketersediaan pupuk -terutama yang bernitrogen yang dikapalkan dari Teluk Persia- meningkatkan biaya pertanian dan seiring waktu akan berkontribusi pada harga makanan yang lebih tinggi.
2. Kelangkaan pupuk dapat mengganggu panen karena ketepatan waktu sangat tidak bisa ditawar. Petani membutuhkan pupuk bernitrogen pada saat menanam dan tidak bisa secara efektif diaplikasikan begitu bibit sudah ditanam. Bahkan ketika kelangkaan pupuk mereda, dampaknya akan masih terasa karena mengembalikan produksi pupuk perlu waktu, sementara waktu tanam datang tepat waktu.
3. Memasuki fase El-Nino akan menambah tekanan pada iklim musiman dan cuaca, perubahan waktu hujan dan pola perubahan suhu, dan membawa cuaca ekstrim. Pada saat yang sama ketersediaan pupuk semakin ketat meningkatkan risiko menurunnya hasil panen dan tekanan inflasi pangan. 1)
Konflik Selat Hormuz
Sebagaimana kita ketahui bahwa meningkatnya eskalasi konflik di Timur Tengah pasca serangan Israel dan Amerika serikat ke Iran telah meningkatkan ketegangan di Selat Hormuz, jalur utama perdagangan untuk berbagai komoditas penting.
Ketegangan ini terus meningkat sampai akhirnya Selat Hormuz ditutup oleh pemerintah Iran dengan alasan keamanan pada Februari 2026. 2)
Hingga Pertengahan Oktober konflik di Selat Hormuz masih jauh dari kata damai. Pada Senin 19 Oktober 2026 Antara memberitakan satu kapal tanker terkena ranjau.
Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) melaporkan bahwa setidaknya tiga kapal tanker terbakar setelah menghantam ranjau laut di jalur selatan Selat Hormuz yang dianggap Teheran sebagai rute ilegal.3)
Selat Hormuz sangat penting untuk jalur perdagangan, tidak hanya minyak dan gas, namun juga untuk untuk produk terkait pupuk.
Data dari Organisasi Perdagangan Dunia (WTO) bekerjasama dengan AXSMarine melaporkan bahwa data bulan Juli dan Agustus menunjukkan bahwa aktivitas pelayaran melalui Selat Hormuz tetap sangat terbatas dan tidak merata di berbagai kategori kargo.
Perbaikan sementara yang terlihat sekitar akhir Juni dan awal Juli tidak berlanjut menjadi pemulihan yang berkelanjutan.
Rata-rata pergerakan tujuh hari untuk pengiriman keluar yang mencakup minyak mentah, LNG, dan produk terkait pupuk tetap mendekati nol selama sebagian besar periode dua bulan tersebut.
Sementara pengiriman masuk untuk produk pertanian menunjukkan aktivitas yang lebih konsisten, meskipun masih berfluktuasi.4)
Kesiapan Indonesia Menghadapi Kemungkinan Krisis Pangan
Lantas bagaimana dengan Indonesia dalam menghadapi kondisi tersebut? Apakah Indonesia memiliki kesiapan yang cukup untuk menghadapi krisis pangan dunia karena imbas dari konflik di Iran dan merebaknya El Nino?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut, kita perlu menilai dua aspek secara bersamaan.
Pertama, apakah arah kebijakan pangan nasional telah menempatkan ketahanan pangan sebagai prioritas strategis.
Kedua, sejauh mana kebijakan tersebut telah diterjemahkan menjadi langkah konkret yang mampu memperkuat kapasitas produksi, menjamin ketersediaan input pertanian, dan menjaga stabilitas pasokan pangan
Arah Kebijakan: Ketahanan Pangan Sebagai Bagian dari Kemandirian Bangsa
Arah kebijakan Indonesia tentang pangan saat ini secara eksplisit tertuang dalam Asta Cita Presiden Prabowo Subianto butir dua yaitu memantapkan pertahanan dan keamanan negara dan mendorong kemandirian bangsa melalui swasembada pangan, energi, air, ekonomi kreatif, ekonomi hijau dan ekonomi biru.
Selain itu dalam butir ke-enam yaitu membangun dari desa dan dari bawah untuk pemerataan ekonomi dan pemberantasan kemiskinan.
Dua agenda tersebut memiliki keterkaitan erat dengan ketahanan pangan. Swasembada pangan dan kemandirian energi merupakan bagian dari upaya memperkuat kemampuan negara memenuhi kebutuhan strategisnya sendiri sekaligus mengurangi kerentanan terhadap gejolak eksternal.
Sementara itu fokus membangun dari desa adalah langkah yang tepat ketika swasembada pangan menjadi pilihan untuk menuju kemandirian bangsa yang pada akhirnya akan memperkokoh stabilitas dan keamanan negara.
Dalam situasi geopolitik yang tidak menentu, kemampuan menjamin ketersediaan pangan dan energi juga menjadi modal diplomasi internasional. Negara yang memiliki kapasitas produksi domestik dan sistem distribusi yang tangguh cenderung memiliki ruang kebijakan yang lebih luas ketika pasar global mengalami gangguan
Industri pupuk: Fondasi Penting Ketahanan Pangan
Salah satu komponen penting dalam kesiapan Indonesia adalah kemampuan Industri Pupuk nasional menjaga kesinambungan pasokan bagi petani.
PT. Pupuk Indonesia (Persero) sebagai salah produsen pupuk terbesar ketujuh di dunia. Saat ini kapasitas produksi mencapai 14,8 juta ton pertahun untuk berbagai jenis pupuk.
Dalam mneghadapi eskalasi konflik di timur tengah, Pupuk Indonesia telah melakukan langkah mitigasi, dalam keterangan di dari laman Pupuk Indonesia
“Secara fundamental, produksi urea nasional juga memiliki tingkat kemandirian yang terjaga, karena bahan baku utamanya berupa gas bumi dapat dipenuhi dari domestik dengan pasokan dan harga yang sudah diatur oleh Pemerintah.
Dengan demikian, meskipun terjadi eskalasi konflik di Selat Hormuz, yang merupakan salah satu jalur distribusi penting urea global, kondisi tersebut tidak berdampak langsung terhadap pasokan pupuk urea nasional.” 5) begitu bunyi pernyataan pers PT Pupuk Indonesia yang dimuat dalam lama resminya pada 6 Mei 2026.
Namun Pupuk Indonesia juga menghadapi tantangan dalam pengadaan bahan baku pupuk yang tidak tersedia secara alami di Indonesia seperti Phospat (P) dan Kalium (K) yang menjadi bahan baku pupuk NPK dan harus di Impor. Untuk mengurangi kerentanan Pupuk Indonesia telah melakukan diversifikasi negara asal yang tidak terdampak konflik di Timur Tengah tersebut.
Gas Bumi dan Keberlanjutan Industri Pupuk
Dalam industri pupuk, salah satu komponen terbesar untuk produksi pupuk adalah gas, dalam struktur biaya produksi urea misalnya kontribusi gas mencapai 71 persen.
Artinya setiap perubahan harga gas akan menentukan biaya produksi pupuk, dengan kontribusi mencapai 71 persen gas kenaikan sedikit saja akan membuat biaya produksi meningkat.
Ini menunjukan betapa sensitif sekali industri pupuk terhadap perubahan harga gas. Diperlukan harga gas yang kompetitif supaya industri pupuk bisa memiliki ruang menjaga efisiensi, memperbaiki pabrik dan untuk melakukan investasi jangka panjang. Kepastian harga dan ketersediaan gas untuk industri pupuk tidak bisa dilepaskan dari kebijakan pangan. 6)
Terkait dengan ketersediaan gas, pada 25 April 2026, JP Morgan menyatakan Indonesia masuk dalam jajaran negara dengan katahanan energi terbaik di dunia.
“Di tengah krisis energi global yang dipicu oleh penutupan Selat Hormuz, sebuah laporan dari JP Morgan Asset Management menempatkan Indonesia sebagai negara dengan ketahanan energi terbaik kedua di antara 52 negara konsumen energi terbesar di dunia, yang secara kolektif mencakup sekitar 82% dari konsumsi energi global”.7)
Distribusi pupuk: memastikan pasokan sampai kepada petani
Ketersediaan pupuk di tingkat produsen tidak dengan sendirinya menjamin bahwa petani memperoleh pupuk pada waktu dan tempat yang tepat.
Oleh sebab itu, distribusi merupakan mata rantai penting yang menentukan apakah kapasitas produksi nasional benar-benar menghasilkan manfaat bagi pertanian.
Pupuk Indonesia telah melakukan perubahan tata kelola pupuk subsidi, perubahan itu antara lain melalui penyederhanaan regulasi, sentralisasi koordinasi dan digitalisasi distribusi.8)
Keberhasilan kebijakan pupuk seharusnya tidak hanya diukur dari besarnya kapasitas produksi atau volume penyaluran, tetapi juga dari kemampuannya menjamin ketepatan pasokan pada setiap musim tanam.
Produksi Pangan dan Nasional
Menurut data BPS per Agustus 2026 produksi padi nasional mencapai 43.8 juta ton dan jagung 11,8 juta ton 9) . Sementara untuk beras nasional berdasarkan data pemerintah hingga Agustus 2026, stok cadangan beras nasional mencapai sekitar 5,25 juta ton.
Sementara produksi beras nasional 2026 diproyeksikan berada pada kisaran 34,77 juta hingga 38,6 juta ton, dengan kebutuhan nasional diperkirakan sekitar 31,10 juta ton. Dengan kondisi tersebut, produksi beras nasional diproyeksikan mengalami surplus sekitar 3,67 juta ton.10)
Stok beras ini adalah yang tertinggi sepanjang sejarah. Meskipun ditengah konflik yang diprediksi menurunkan hasil panen yang berpotensi membuat harga pangan meningkat serta kelangkaan pangan, Indonesia justru memberikan bukti bahwa produksi beras surplus.
Kesimpulan : Ketahanan Pangan Harus Dijaga Sebelum Krisis Terjadi
Kekhawatiran konflik Selat Hormuz terhadap kelangkaan pupuk yang dikhawatirkan akan mengganggu hasil panen, bersamaan dengan datangnya El Nino yang akan memperparah kemungkinan terjadinya kelangkaan pangan sudah diantisipasi dengan baik oleh Pupuk Indonesia.
Langkah ini adalah penerjemahan dari Asta Cita yang menempatkan ketahanan pangan sebagai instrumen untuk menuju kemandirian bangsa untuk memantapkan pertahanan dan keamanan negara.
Pupuk Indonesia mengantisipasi lebih awal dengan melakukan diversifikasi sumber bahan baku, manajemen stok, serta program revitalisasi Pupuk Indonesia sehingga dapat menjaga stabilitas pasokan pupuk nasional.
Meskipun konflik sampai tulisan ini dibuat masih berlangsung pasokan pupuk nasional masih terjaga dengan baik dan ini tercermin dengan meningkatnya produksi tanaman pangan terutama pada produksi padi dan jagung.
Sebagai negara berpenduduk 288 juta jiwa sudah seharusnya Indonesia menempatkan ketahanan pangan menjadi prioritas.
Ketahanan pangan bukan sekadar persoalan ekonomi atau pencapaian produksi pertanian. Ketahanan pangan merupakan bagian dari ketahanan nasional yang berkaitan langsung dengan stabilitas sosial, kesejahteraan masyarakat, dan ruang gerak Indonesia dalam menghadapi tekanan geopolitik global.
Pembukaan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia serta memajukan kesejahteraan umum. Karena itu, memperkuat ketahanan pangan berarti memperkuat salah satu fondasi utama bagi kemandirian, stabilitas, dan keamanan Indonesia.
Catatan kaki:
1). Food Security Under Pressure: Fertilizer Supply Chain Disruptions and El Niño Risks
2). Iran Tutup Sebagian Selat Hormuz, Rusia dan China Kirim Kapal Perang
3). IRGC: Satu kapal tanker kena ranjau dan terbakar di Selat Hormuz – ANTARA News
4). Strait of Hormuz Trade Tracker | Data Lab
5). Pupuk Indonesia Pastikan Pasokan Pupuk Nasional Aman di Tengah Gejolak Timur Tengah https://www.pupuk-indonesia.com/media-info/detail/824/pupuk-indonesia-pastikan-pasokan-pupuk-nasional-aman-di-tengah-gejolak-timur-tengah
6). Andi Riza Hidayat, Insan AlFajri, Mukhamad Kurniawan. 2026 Industri Sehat, Petani Giat, Pangan Kuat-Reformasi Struktural Tata Kelola Pupuk Subsidi Sebagai Motor Swasembada Indonesia. 25-27
7). JPMorgan: Indonesia ranks second most resilient to global energy shock | IDNFinancials, https://www.idnfinancials.com/news/63270/jpmorgan-indonesia-ranks-second-most-resilient-to-global-energy-shock
8). ). Andi Riza Hidayat, Insan AlFajri, Mukhamad Kurniawan. 2026 Industri Sehat, Petani Giat, Pangan Kuat-Reformasi Struktural Tata Kelola Pupuk Subsidi Sebagai Motor Swasembada Indonesia. 114-116
9). Produksi Tanaman Pangan Nasional – Tabel Statistik – Badan Pusat Statistik
10). menko-pangan-pastikan-ketahanan-pangan-aman-nasional-di-tengah-fenomena-el-nino










