Kabar5News – Kimpul kembali menjadi perbincangan setelah muncul dalam berbagai kreasi makanan di media sosial. Umbi lokal yang selama ini cukup akrab bagi sebagian masyarakat itu kini diolah menjadi makanan yang biasanya menggunakan kentang maupun nasi.
Tren tersebut bermula dari kreativitas sejumlah pengguna media sosial yang mengganti bahan utama berbagai menu dengan kimpul. Mulai dari potato wedges, mashed potato, dumpling ayam, seblak hingga tteokbokki, kimpul dibuat menjadi alternatif bahan pangan yang lebih dekat dengan sumber pangan lokal.
Popularitasnya kemudian memunculkan pertanyaan lain: sebenarnya apa kandungan kimpul dan apakah umbi ini bisa langsung dikonsumsi?
Kimpul atau Xanthosoma sagittifolium merupakan salah satu jenis umbi yang dapat menjadi sumber karbohidrat. Menurut Spesialis Gizi Klinik, dr. Igus Ulfa Yaze, SpGK, kimpul memiliki kandungan karbohidrat yang lebih rendah dibandingkan nasi putih jika dibandingkan dalam berat yang sama.
Hal tersebut salah satunya dipengaruhi oleh kandungan air dalam kimpul yang cukup tinggi. Selain itu, kimpul juga memiliki kandungan serat yang dapat membantu memberikan rasa kenyang lebih lama.
“Seratnya juga lumayan lebih tinggi, jadi bisa bikin kenyang lebih lama dibanding nasi putih,” ungkap dr. Yaze, dikutip dari detik pada 4 Agustus 2026.
Kandungan karbohidrat kompleks dan serat tersebut juga membuat kimpul dapat menjadi salah satu alternatif bagi masyarakat yang sedang mengatur pola makan.
“Dari sisi karbohidrat kompleks dan serat, kimpul bisa banget jadi salah satu pilihan,” jelasnya.
Secara perkiraan, dalam setiap 100 gram kimpul mentah terdapat sekitar 145 kalori, 34,2 gram karbohidrat, 1,5 gram serat, 1,2 gram protein, dan 0,4 gram lemak.
Kimpul juga mengandung sejumlah mineral dan komponen lain, seperti kalium, kalsium, tembaga, vitamin B3, pati resisten, serta senyawa bioaktif seperti flavonoid dan diosgenin.
Pati resisten merupakan jenis pati yang lebih sulit dicerna di usus halus dan dapat menjadi sumber makanan bagi bakteri baik di usus. Sementara itu, kalium merupakan salah satu mineral penting yang dibutuhkan tubuh.
Namun, di balik kandungan gizinya, kimpul memiliki satu hal yang perlu diperhatikan sebelum dikonsumsi.
Kimpul tidak boleh dimakan dalam kondisi mentah karena mengandung kalsium oksalat yang dapat menimbulkan rasa gatal pada mulut dan tenggorokan. Karena itu, pengolahannya perlu dilakukan dengan tepat.
Berikut lima cara mengolah kimpul agar lebih aman dikonsumsi:
1. Pilih Kimpul yang Masih Segar
Sebelum masuk ke proses memasak, pastikan kimpul yang digunakan masih dalam kondisi baik.
Pilih umbi yang memiliki kulit relatif mulus, tidak terlalu keriput, serta terasa padat ketika ditekan. Hindari kimpul yang sudah lembek, berbau tidak sedap, memiliki bercak hitam, atau menunjukkan tanda-tanda pembusukan.
2. Kupas dan Bersihkan Getahnya
Kimpul mentah dapat mengeluarkan getah yang menyebabkan rasa gatal pada kulit. Untuk menghindari kontak langsung, gunakan sarung tangan ketika mengupasnya.
Setelah kulit terlepas, cuci kimpul menggunakan air mengalir hingga bersih untuk menghilangkan sisa getah dan kotoran.
3. Rendam dengan Air Garam
Setelah dikupas dan dipotong, kimpul dapat direndam dalam air garam selama sekitar 30 menit hingga 1 jam.
Tahapan ini menjadi bagian dari proses pengolahan untuk membantu mengurangi kalsium oksalat. Setelah selesai, buang air rendaman dan bilas kembali kimpul dengan air bersih.
4. Rebus hingga Benar-Benar Matang
Ini menjadi salah satu tahap terpenting. Kimpul tidak boleh dikonsumsi mentah.
Memasaknya hingga matang membantu mengurangi senyawa penyebab rasa gatal. Kimpul yang sudah matang kemudian dapat dikonsumsi langsung atau diolah menjadi berbagai hidangan.
Mulai dari kolak, kudapan, hingga berbagai kreasi makanan yang biasanya menggunakan kentang atau nasi, kimpul dapat menjadi bahan alternatif yang cukup fleksibel.
5. Jemur untuk Olahan Tertentu
Jika ingin mengolah kimpul menjadi tepung atau makanan fermentasi, proses pengeringan dapat dilakukan setelah umbi dikupas dan dibersihkan.
Kimpul dapat dijemur hingga permukaannya mengering. Proses tersebut membantu menurunkan kadar air sehingga bahan lebih mudah disimpan sebelum masuk ke tahap pengolahan berikutnya.
Popularitas kimpul di media sosial sebenarnya membawa kembali perhatian terhadap pangan lokal yang sudah lama dikonsumsi masyarakat Indonesia.
Kandungan karbohidrat kompleks dan serat membuat kimpul menarik untuk dikembangkan menjadi berbagai menu. Namun, tren tersebut tetap perlu diikuti dengan pemahaman mengenai cara pengolahannya.
Jadi, sebelum ikut mencoba kreasi kimpul yang sedang viral, pastikan umbinya masih segar, bersihkan dengan benar, dan masak hingga matang sebelum dikonsumsi. Dengan pengolahan yang tepat, kimpul dapat menjadi salah satu pilihan untuk memperkaya variasi pangan lokal.











