Kabar5News – Hidup sehat kini semakin lekat dengan gaya hidup masyarakat, terutama kalangan anak muda. Olahraga tidak lagi hanya dilakukan untuk menjaga kebugaran, tetapi juga menjadi cara melepas stres, berkumpul dengan komunitas, hingga mencari pengalaman baru.
Mulai dari gym, lari, yoga, pilates, padel, sampai tenis, berbagai aktivitas tersebut semakin mudah ditemukan. Namun, di balik tren positif itu terdapat satu hal yang juga perlu diperhatikan, yaitu pengeluaran.
Pasalnya, keinginan untuk menjalani gaya hidup sehat terkadang berkembang menjadi kebutuhan untuk membeli perlengkapan baru atau mengikuti berbagai aktivitas berbayar. Jika tidak dikontrol, biaya yang awalnya terlihat kecil bisa menumpuk menjadi pengeluaran rutin.
Olahraga Jadi Bagian dari Gaya Hidup
Melansir ANTARA, survei Amar Bank terhadap 300 responden Gen Z dan milenial menunjukkan bahwa olahraga telah menjadi bagian dari gaya hidup sekaligus pengalaman.
Sebanyak 53,8 persen responden mengaku berolahraga untuk melepaskan stres. Sementara itu, 22,5 persen menjadikan olahraga sebagai cara menjaga kondisi fisik dan penampilan.
Menariknya, hanya 1,3 persen responden yang menyebut gengsi atau FOMO sebagai alasan utama berolahraga.
Angka tersebut menunjukkan bahwa tren olahraga tidak semata-mata muncul karena ingin mengikuti gaya hidup orang lain. Ada kebutuhan nyata untuk menjaga kesehatan sekaligus mendapatkan manfaat psikologis dari aktivitas fisik.
Namun, kebutuhan tersebut tetap perlu disesuaikan dengan kondisi keuangan.
Saat Gaya Hidup Sehat Mulai Mengubah Anggaran
Pengeluaran untuk olahraga ternyata sudah menjadi bagian tersendiri dalam keuangan sebagian responden.
Survei yang sama mencatat 46,2 persen responden masih mengalokasikan kurang dari 10 persen pendapatan untuk olahraga. Namun, 22,1 persen mengaku pengeluaran tersebut mulai membuat kondisi finansial terasa lebih ketat.
Bahkan, sebanyak 10,6 persen responden Gen Z menghabiskan lebih dari 20 persen pendapatannya untuk aktivitas olahraga.
Kondisi ini menjadi gambaran bahwa lifestyle inflation tidak selalu berkaitan dengan barang mewah. Kenaikan standar hidup juga dapat muncul dari aktivitas yang sebenarnya positif, termasuk ketika seseorang mulai meningkatkan anggaran untuk kesehatan dan kebugaran.
Mahal Belum Tentu Lebih Bermanfaat
Salah satu cara sederhana untuk mengontrol pengeluaran adalah melihat seberapa sering barang atau layanan tersebut digunakan.
Prinsip ini dikenal sebagai cost-per-use. Semakin sering sebuah barang digunakan, semakin besar pula manfaat yang bisa diperoleh dari uang yang dikeluarkan.
Contohnya, sepatu olahraga seharga Rp1,5 juta mungkin terlihat mahal. Namun, jika digunakan secara rutin selama berbulan-bulan, biaya tersebut dapat terasa lebih masuk akal dibandingkan membeli perlengkapan murah yang jarang digunakan.
Sebaliknya, membeli perlengkapan mahal hanya karena sedang tren bisa menjadi pengeluaran yang kurang efektif.
Karena itu, sebelum membeli perlengkapan olahraga, penting untuk mempertimbangkan apakah barang tersebut benar-benar dibutuhkan atau hanya muncul karena keinginan sesaat.
Tidak Harus Selalu Bayar Mahal untuk Hidup Sehat
Menariknya, ketika biaya aktivitas wellness meningkat, banyak orang justru memilih mencari alternatif yang lebih terjangkau.
Sebanyak 54,2 persen responden dalam survei memilih beralih ke aktivitas yang lebih murah atau gratis ketika biaya wellness naik 20 persen.
Pilihan tersebut menunjukkan bahwa menjaga kebugaran sebenarnya tidak selalu membutuhkan fasilitas mahal.
Ada banyak alternatif yang bisa dilakukan, seperti:
- Jalan kaki atau berlari di ruang publik.
- Berolahraga menggunakan video latihan di rumah.
- Bergabung dengan komunitas olahraga.
- Memanfaatkan fasilitas olahraga yang tersedia di lingkungan sekitar.
- Menggunakan kembali perlengkapan yang masih layak.
Dengan cara tersebut, aktivitas fisik tetap bisa dilakukan tanpa harus mengorbankan terlalu banyak anggaran.
Ketika Harus Memilih antara Nongkrong atau Wellness
Cara setiap generasi mengatur pengeluaran juga berbeda.
Sebanyak 51,9 persen Gen Z memilih mengurangi anggaran untuk kopi dan nongkrong demi membiayai aktivitas wellness. Sementara itu, 52 persen milenial memilih tetap berpegang pada batas anggaran dan menunda aktivitas atau pembelian perlengkapan olahraga ketika dana belum tersedia.
Pilihan tersebut memperlihatkan bahwa mengatur keuangan tidak selalu berarti berhenti melakukan aktivitas yang disukai. Yang lebih penting adalah menentukan prioritas.
Ketika pengeluaran untuk olahraga meningkat, seseorang bisa mengurangi pos lain yang kurang penting, selama kebutuhan utama dan kondisi keuangan jangka panjang tetap aman.
Jangan Sampai Sehat Badan, Sakit Dompet
Pada akhirnya, menjalani gaya hidup sehat tetap membutuhkan keseimbangan.
Tabungan, dana darurat, kebutuhan sehari-hari, serta kewajiban finansial sebaiknya tidak dikorbankan hanya demi mengikuti tren wellness.
Dalam survei tersebut, 71,2 persen responden memilih menabung daripada menggunakan utang untuk memenuhi kebutuhan terkait hobi.
Artinya, keinginan untuk hidup sehat tetap bisa berjalan bersama dengan pengelolaan keuangan yang baik. Kuncinya bukan menghindari olahraga atau wellness, melainkan mengetahui batas kemampuan dan memilih aktivitas yang sesuai dengan kondisi masing-masing.
Sebab, tujuan utama dari gaya hidup sehat adalah meningkatkan kualitas hidup. Jangan sampai niat menjaga kesehatan justru membuat kondisi finansial ikut terbebani.
Jadi, sebelum membeli perlengkapan olahraga atau mencoba tren wellness terbaru, pastikan manfaatnya sepadan dengan uang yang dikeluarkan.











