Kabar5News – Pemerintah akan melibatkan 1.000 taruna Akademi Militer (Akmil) dalam program pembinaan karakter bagi siswa Sekolah Rakyat yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia.
Program tersebut bertujuan menanamkan kedisiplinan dan membangun kebiasaan hidup tertib melalui berbagai aktivitas sederhana yang dilakukan dalam kehidupan sehari-hari.
Para taruna akan mengajarkan sejumlah keterampilan dasar, seperti menyetrika seragam, merapikan tempat tidur, menata lemari pakaian, hingga menyemir sepatu.
Materi tersebut disiapkan sebagai bagian dari pembentukan karakter agar para siswa terbiasa hidup rapi, mandiri, dan disiplin sejak dini.
Komandan Jenderal Akademi TNI Letjen TNI R. Sidiharta Wisnu Graha mengatakan sebanyak 1.000 taruna tingkat I dan II akan diterjunkan ke 178 Sekolah Rakyat bersama para pengasuh untuk mendampingi proses pembinaan karakter.
“Nanti kami siapkan 1.000 orang, itu termasuk pengasuhnya taruna. Jadi, nanti taruna yang kami kirim itu tingkat I dan tingkat II,” ujar Wisnu.
Rencana tersebut dibahas dalam pertemuan antara Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono bersama jajaran Akademi TNI dan TNI AD di Kantor Kementerian Sosial, Jakarta Pusat.
Hingga saat ini, Kementerian Sosial dan Mabes TNI masih menyusun skema pelaksanaan program yang dijadwalkan berlangsung selama satu pekan pada awal Agustus 2026.
Menurut Agus Jabo, pembinaan kedisiplinan menjadi salah satu perhatian pemerintah, termasuk dalam penyelenggaraan Sekolah Rakyat yang diinisiasi untuk membentuk karakter peserta didik.
Melalui kerja sama tersebut, setiap Sekolah Rakyat direncanakan akan didampingi lima taruna yang bertugas membimbing siswa maupun tenaga pendidik dalam membangun budaya disiplin dan menjaga kerapian lingkungan sekolah.
“Nanti setelah ada skema antara Mabes TNI dengan Kemensos, rencananya di tiap Sekolah Rakyat akan ada lima taruna yang akan membimbing, baik siswa maupun guru-gurunya dalam masalah kerapian,” kata Agus Jabo.
Ia menjelaskan bahwa proses pembinaan diperlukan untuk membantu siswa beradaptasi dari lingkungan asal menuju kehidupan berasrama di Sekolah Rakyat.
Menurutnya, perubahan lingkungan belajar membutuhkan pendampingan agar peserta didik mampu menyesuaikan diri sekaligus membangun kebiasaan positif dalam kehidupan sehari-hari.
Keterlibatan TNI dalam program tersebut juga merupakan tindak lanjut dari Instruksi Presiden Nomor 8 Tahun 2025 yang mendorong kolaborasi lintas kementerian dan lembaga dalam mendukung penyelenggaraan Sekolah Rakyat.
Dengan pembinaan tersebut, pemerintah berharap para siswa tidak hanya memperoleh pendidikan akademik, tetapi juga memiliki karakter disiplin, mandiri, bertanggung jawab, serta mampu menerapkan budaya hidup rapi dalam kehidupan sehari-hari.












