Kabar5News – Banjir bandang menerjang sejumlah wilayah di Kabupaten Solok, Sumatera Barat, pada Senin malam, 21 September 2026. Hujan dengan intensitas tinggi memicu bencana yang membawa material lumpur, pasir, batu, hingga kayu ke kawasan permukiman dan sejumlah fasilitas umum.
Kondisi tersebut membuat penanganan harus dilakukan dengan cepat. Bukan hanya menyelamatkan warga yang terdampak, petugas di lapangan juga harus membersihkan material banjir yang menutup akses serta memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi.
TNI menjadi salah satu unsur yang bergerak dalam penanganan bencana tersebut. Melalui Kodam XX/Tuanku Imam Bonjol, personel dikerahkan untuk membantu proses evakuasi, pemantauan wilayah, pembersihan material, hingga membuka akses di sejumlah titik terdampak.
Sebanyak 618 personel TNI dari berbagai kesatuan dikerahkan untuk membantu penanganan banjir bandang di Kabupaten Solok. Para prajurit difokuskan pada pembersihan material sekaligus mendukung tahapan rehabilitasi dan rekonstruksi selama masa tanggap darurat.
Gerak cepat tersebut menjadi penting karena dampak banjir tidak hanya dirasakan oleh warga yang rumahnya terdampak. Material lumpur, batu, dan kayu juga sempat menutup akses transportasi sehingga menghambat aktivitas masyarakat serta distribusi bantuan.
Asisten Operasi Kodam XX/Tuanku Imam Bonjol Kolonel Inf Jimmy T.P. Sitinjak menekankan pentingnya kecepatan sekaligus keselamatan dalam menjalankan tugas di lokasi bencana.
“Seluruh jajaran harus siap bergerak cepat apabila masyarakat membutuhkan bantuan. Utamakan keselamatan warga, bantu proses evakuasi dan penanganan di lapangan, serta terus lakukan koordinasi dengan pemerintah daerah dan seluruh unsur terkait,” tegas Jimmy.
Berdasarkan data BNPB per 22 September 2026, bencana tersebut menyebabkan satu warga meninggal dunia dan satu orang masih dalam pencarian. Selain itu, satu warga mengalami luka berat dan tiga lainnya mengalami luka ringan. Sebanyak 9 kepala keluarga atau 32 jiwa juga tercatat mengungsi.
Sebelumnya, sekitar 200 kepala keluarga dilaporkan terdampak. Material banjir juga sempat membuat akses utama jalan nasional terganggu. Alat berat kemudian dikerahkan untuk membersihkan material yang menutupi badan jalan.
Penanganan bencana di Solok pun tidak hanya dilakukan oleh TNI. Pemerintah daerah, Polri, BNPB, Basarnas, Kementerian Pekerjaan Umum, BPBD, serta berbagai unsur lainnya turut bergerak di lapangan. Koordinasi lintas instansi diperlukan agar proses evakuasi, pencarian korban, pembersihan wilayah, hingga pemulihan fasilitas umum dapat dilakukan secara bersamaan.
Seiring penanganan berjalan, akses jalan antara Kabupaten Solok dan Kota Padang dilaporkan kembali normal. Namun, pekerjaan belum sepenuhnya selesai. Pembersihan material di sejumlah lokasi dan pemulihan infrastruktur masih menjadi bagian dari proses berikutnya.
Pemkab Solok juga menyiagakan personel untuk membantu pembersihan wilayah, termasuk menjangkau lokasi yang masih terisolir. Dukungan kebutuhan dasar seperti air bersih turut disiapkan untuk masyarakat yang terdampak.
Banjir bandang Solok pada akhirnya menunjukkan bahwa penanganan bencana tidak berhenti ketika air mulai surut. Setelah proses evakuasi, masih ada pekerjaan panjang untuk membersihkan lingkungan, membuka akses, memperbaiki fasilitas, serta membantu masyarakat kembali menjalankan aktivitasnya.
Di tengah kondisi tersebut, keterlibatan TNI bersama berbagai unsur menjadi bagian dari respons darurat untuk mempercepat penanganan di lapangan. Dari membersihkan material hingga membantu membuka akses warga, setiap tahapan menjadi bagian dari proses pemulihan masyarakat Solok setelah diterjang banjir bandang.










