Kabar5News – Hajatan besar tahunan masyarakat adat Kanekes belum lama ini dilaksanakan. Digelar selama empat hari pada 23-26 April 2026, perhelatan Seba Baduy tahun ini kembali menjadi pusat perhatian publik saat ribuan warga Baduy memadati dua titik utama, yakni Rangkasbitung (Kabupaten Lebak) dan Kota Serang (Provinsi Banten).
Tradisi warga Baduy tersebut bukanlah sekadar kunjungan biasa, melainkan sebuah pernyataan cinta dan kesetiaan dari “Urang Kanekes” kepada alam dan pemerintah.
Rangkaian acara yang dimulai di Rangkasbitung dan memuncak di Pendopo Gubernur di Serang itu menjadi saksi keteguhan warga Baduy. Ribuan warga Baduy Luar dengan pakaian hitam atau biru tuanya, serta puluhan perwakilan Baduy Dalam yang mengenakan pakaian putih gading, berjalan kaki puluhan kilometer menembus batas pedalaman menuju pusat kota.
Bagi warga Baduy Dalam, perjalanan ini dilakukan tanpa alas kaki dan tanpa bantuan kendaraan apa pun merupakan sebuah bentuk konsistensi terhadap Pikukuh (aturan adat) yang melarang penggunaan teknologi modern dalam ritual suci.
Filosofi di Balik Seserahan
Dalam ritual Seba, warga Baduy menyerahkan hasil bumi berupa padi, palawija, hingga buah-buahan kepada “Bapak Gede” (sebutan untuk pemimpin daerah). Secara filosofis, pemberian ini mengandung makna mendalam, yakni sebagai wujud rasa syukur kepada Sang Pencipta atas kelimpahan hasil panen setahun terakhir, wadah silaturahmi serta mempererat hubungan antara masyarakat adat dan pemerintah agar tercipta keselarasan dalam mengelola wilayah, dan kesetiaan masyarakat Baduy sebagai warga negara yang taat pada hukum negara selama tidak berbenturan dengan hukum adat.
Salah satu momen paling krusial dalam Seba adalah penyampaian amanat adat. Di hadapan para pemimpin daerah, warga Baduy menitipkan pesan moral yang konsisten dari tahun ke tahun: Jaga alam, jaga hutan, dan jaga sumber air.
Filosofi hidup mereka, “Gunung teu meunang dilebur, lebak teu meunang dirusak” (Gunung tidak boleh dihancurkan, lembah tidak boleh dirusak), menjadi semacam pengingat yang terus-menerus didengungkan.
Bagi mereka, kelestarian hutan di Pegunungan Kendeng bukan hanya soal kelangsungan hidup mereka, melainkan penopang keseimbangan ekosistem bagi seluruh masyarakat Banten.
Beberapa fakta unik dalam ritual Seba Baduy:
Jalan Kaki Puluhan Kilometer
Baduy Dalam tetap memegang teguh larangan menggunakan kendaraan. Mereka berjalan kaki dari desa Cibeo, Cikertawana, dan Cikeusik menuju Serang sejauh lebih dari 80 km dengan langkah yang tenang namun pasti.
Prediksi Cuaca dan Panen
Melalui ritual sebelumnya, yakni Kawalu dan Ngalaksa, para tetua adat biasanya sudah memiliki gambaran spiritual mengenai kondisi pangan dan tantangan alam setahun ke depan.
Keheningan yang Khidmat
Meski dihadiri ribuan orang, suasana Seba tetap khidmat dan tak gaduh. Kedisiplinan warga Baduy dalam mengikuti instruksi Puun (pimpinan adat) menjadi cerminan keteraturan sosial yang luar biasa.











