Kabar5News – Niu Lai atau The Arrival of the Ox film animasi independen asal China yang hanya dikerjakan dua orang menjadi fenomena internet paling pecah tahun ini.
Awal mula kemunculannya, karya tersebut sempat dikritik habis-habisan hingga menjadi bulan-bulanan di media sosial gegara kualitas animasi yang disebut masih terlihat kaku.
Namun, siapa sangka hujatan maupun kritikan pedas terhadap proyek animasi tersebut justru membuat peluang tidak terduga datang hingga membawa Niu Lai berhasil masuk jajaran 10 besar film terlaris sepanjang musim panas 2026.
Pendapatan awal saat pertama kali rilis hanya sebesar 7.169 yuan yang terbilang memprihatinkan. Namun, kini berhasil menembus total box office senilai 18 juta yuan atau setara dengan Rp 47 miliar lebih.
Keberhasilan tersebut tidak terlepas dari strategi marketing unik di luar prediksi, semula dianggap biasa saja. Kini malah sukses bikin kejutan besar.
Lantas, apa strategi yang dijalankan hingga bikin film Niu Lai mendadak diincar penonton? Simak ulasan selengkapnya di sini.
Mengenal Niu Lai atau The Arrival of the Ox
Animasi asal China ini mengisahkan tentang petualangan seekor anak sapi yang sedang berusaha keras menjadi pejuang dengan ditemani burung Skylark.
Melansir dari CNN, saat tayang perdana pada awal Agustus 2026. Film tersebut mendapat hujatan karena visual teramat kasar serta kisah yang diangkat terkesan canggung.
Kritikan tajam yang terus berdatangan membuat Xin Yu Meng selaku kreator angkat bicara. Ia menegaskan bahwa kekuatan alur narasi memang sengaja diprioritaskan daripada fokus memoles detail visual.
Ia juga berpendapat kalau terlalu menghabiskan waktu untuk mengejar detail visual secara sempurna. Maka, film tidak pernah selesai.
Awalnya memang dicibir, namun dalam hitungan hari berhasil mencapai belasan juta yuan hingga popularitasnya menyamai blockbuster seperti The Odyssey maupun Spiderman: Brand New Day.
Proses Produksi Dikerjakan Dua Orang Pakai Komputer Bekas
Masih melansir pada sumber yang sama, Niu Lai memang dari awal dikerjakan dua orang saja yakni Xin Yu Meng bersama ibu tercinta bernama Sun Lifang.
Xin diketahui tidak mempunyai latar belakang pendidikan tentang perfilman. Ia berprofesi sebagai desainer interior yang nekat belajar animasi secara otodidak.
Sementara itu, sang ibu belajar menulis naskah sekaligus mengisi suara berbagai karakter perempuan.
Proses pengerjaan film animasi independen ini berlangsung lima tahun, yang mana Xin mengerjakan semua teknis visual mulai pemodelan, pencahayaan, proses penyuntingan sendirian.
Alat produksinya dirakit sendiri dari komputer bekas yang dibeli melalui platform jual beli barang bekas lokal.
Strategi Marketing Bikin Niu Lai Menjadi Top 10
Animasi yang satu ini tidak seperti lainnya langsung mendapat sambutan positif tapi malah sebaliknya berbagai hujatan terus dilontarkan.
Bahkan, menjadi bulan-bulanan di media sosial gegara style animasi terlihat kaku. Dari situlah justru menjadi kekuatan bagi film ini untuk melesat.
Melansir dari kincirdotcom hujatan massal tersebut menjadi strategi marketing paling handal untuk film tersebut hingga laris manis dalam sekejap.
Komentar negatif terhadap Niu Lai membangkitkan rasa penasaran warganet untuk menonton film tersebut. Dari situlah akhirnya berhasil mengantarkan karya viral ini menjadi top 10 animasi paling laris di China sepanjang tahun 2026.
Publisitas dalam bentuk apapun, termasuk hujatan pedas bisa berbalik sebagai strategi marketing mematikan untuk menarik massa ke bioskop.










