Kabar5News – Singapura kembali menjadi sorotan setelah pernyataan mantan Menteri Luar Negeri George Yeo mengenai hubungan antara kesuksesan dan ketidakbahagiaan masyarakat.
Melansir dari postingan Facebook Bloomberg, pembahasan tersebut muncul dalam program “The Mishal Husain Show”, Yeo ditanya mengenai kondisi Singapura yang disebut berada dalam kelompok negara terkaya di dunia, tetapi juga muncul dalam daftar negara dengan tingkat ketidakbahagiaan yang tinggi.
Yeo kemudian mengingat pesan mantan Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Yew yang menurutnya selalu menekankan agar pemerintah tidak menjanjikan kebahagiaan kepada masyarakat.
“Saya selalu ingat Lee Kuan Yew mengingatkan kami: ‘Jangan pernah menjanjikan kebahagiaan’,” ujar Yeo dalam wawancara tersebut.
Menurut Yeo, pemerintah dapat menjanjikan pembangunan ekonomi, infrastruktur, maupun pendidikan. Namun, kebahagiaan merupakan sesuatu yang tidak dapat dijanjikan oleh pemerintah.
“Kita bisa menjanjikan pembangunan ekonomi, infrastruktur, pendidikan, dan sebagainya. Tetapi jangan pernah menjanjikan kebahagiaan,” katanya.
Pernyataan tersebut kemudian dikaitkan Yeo dengan pengalamannya selama berada di pemerintahan Singapura. Ia menceritakan bahwa ketika dirinya menjabat di Kementerian Perdagangan dan Industri atau Ministry of Trade and Industry (MTI) serta Kementerian Luar Negeri atau Ministry of Foreign Affairs (MFA), pernah dilakukan survei mengenai kementerian yang memiliki keseimbangan kehidupan dan pekerjaan terbaik.
Menurut Yeo, hasil survei tersebut menunjukkan kondisi yang cukup kontras. MTI dan MFA disebut memiliki work-life balance yang buruk. Namun, pada saat yang sama, ia mengatakan kedua kementerian tersebut memiliki tingkat moral kerja yang tinggi.
“Baik MTI maupun MFA memiliki keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi yang buruk. Namun, semangat kerja kami sangat tinggi,” ujar Yeo.
Dari pengalaman tersebut, Yeo kemudian menyampaikan pandangannya bahwa ketidakbahagiaan terkadang dapat menjadi bagian dari proses mencapai suatu keberhasilan.
“Jadi, terkadang ketidakbahagiaan bisa menjadi prasyarat untuk mencapai suatu keberhasilan,” katanya.
Pernyataan tersebut disampaikan dalam suasana dialog yang diselingi tawa dan respons dari peserta. Mantan diplomat Singapura Kishore Mahbubani yang turut hadir dalam diskusi tersebut juga menyatakan persetujuannya terhadap pandangan Yeo.
Namun, pernyataan tersebut kemudian memunculkan perdebatan di ruang publik, terutama mengenai apakah tekanan hidup dan buruknya keseimbangan kerja memang harus dipandang sebagai bagian dari harga yang harus dibayar untuk mencapai keberhasilan ekonomi.
Sejumlah komentar di media sosial Bloomberg mempertanyakan sudut pandang tersebut karena dianggap berpotensi menormalisasi budaya kerja berlebihan. Di sisi lain, terdapat pula pandangan yang menyebut bahwa pemerintah memang tidak dapat menjamin kebahagiaan setiap individu, tetapi dapat menyediakan kondisi ekonomi dan sosial yang memungkinkan masyarakat mengejar kehidupan yang mereka anggap bahagia.
Menariknya, istilah “20 negara paling tidak bahagia” yang menjadi pembuka pertanyaan Mishal Husain juga perlu dilihat secara hati-hati. Dalam wawancara tersebut tidak dijelaskan secara spesifik daftar atau indeks yang digunakan sebagai dasar penyebutan tersebut. Sementara itu, World Happiness Report 2026 menempatkan Singapura di peringkat ke-36 dari 147 negara dan wilayah yang disurvei.
Bloomberg sendiri melaporkan bahwa Singapura merupakan negara dengan GDP per kapita tertinggi di Asia, tetapi berbagai survei kebahagiaan menunjukkan gambaran yang tidak selalu sejalan dengan pencapaian ekonominya. Bloomberg juga menyoroti cepatnya ritme kehidupan serta budaya kerja yang kompetitif sebagai bagian dari perdebatan mengenai kesejahteraan masyarakat Singapura.
Dengan demikian, pernyataan George Yeo tidak semata-mata berbicara mengenai apakah masyarakat Singapura bahagia atau tidak. Pernyataannya membuka diskusi yang lebih luas mengenai hubungan antara ambisi, tekanan, produktivitas, dan kesejahteraan.
Kesuksesan ekonomi sebuah negara pada akhirnya tidak selalu berjalan beriringan dengan pengalaman hidup setiap masyarakatnya. Infrastruktur, pendidikan dan pertumbuhan ekonomi dapat menjadi ukuran pembangunan, sementara rasa puas terhadap kehidupan merupakan persoalan yang jauh lebih kompleks.
Bagi Yeo, pengalaman selama berada di pemerintahan menunjukkan bahwa lingkungan kerja yang penuh tuntutan tidak selalu berarti rendahnya semangat untuk mencapai sesuatu. Namun, perdebatan yang muncul setelah wawancara tersebut juga memperlihatkan pertanyaan lain: sejauh mana tekanan dan tuntutan hidup dapat diterima sebagai bagian dari keberhasilan, dan kapan kondisi tersebut justru perlu dievaluasi kembali?










