Kabar5news
Minggu,11 Oktober , 2026
  • Login
  • BERANDA
  • NASIONAL
  • EKONOMI
  • GAYA HIDUP
  • OLAHRAGA
  • HIBURAN
  • IPTEK
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • NASIONAL
  • EKONOMI
  • GAYA HIDUP
  • OLAHRAGA
  • HIBURAN
  • IPTEK
No Result
View All Result
Kabar5news
No Result
View All Result
Home EKONOMI

Di Balik Kekayaan Singapura Ada Cerita tentang Tekanan dan Kebahagiaan

Kemajuan ekonomi Singapura membuka pembahasan tentang hubungan antara tekanan kerja, keberhasilan, dan kebahagiaan.

Fajar Novryanto by Fajar Novryanto
25 September 2026
in EKONOMI
0
Di Balik Kekayaan Singapura Ada Cerita tentang Tekanan dan Kebahagiaan

George Yeo berbicara dalam The Mishal Husain Show bersama Kishore Mahbubani dalam rangkaian Bloomberg Weekend. Perbincangan tersebut turut membahas hubungan antara tekanan kerja, keberhasilan ekonomi, dan kebahagiaan masyarakat Singapura. Foto: Tangkapan Layar YouTube/Bloomberg Podcast

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatappShare on Line

Kabar5News – Singapura kembali menjadi sorotan setelah pernyataan mantan Menteri Luar Negeri George Yeo mengenai hubungan antara kesuksesan dan ketidakbahagiaan masyarakat.

Melansir dari postingan Facebook Bloomberg, pembahasan tersebut muncul dalam program “The Mishal Husain Show”, Yeo ditanya mengenai kondisi Singapura yang disebut berada dalam kelompok negara terkaya di dunia, tetapi juga muncul dalam daftar negara dengan tingkat ketidakbahagiaan yang tinggi.

RELATED POSTS

Pertamina GP Indonesia 2026 Dorong Pertumbuhan Ekonomi Lokal di Lombok

OPEC+ Tahan Produksi Minyak November, Ada Apa dengan Pasar Energi Global?

Yeo kemudian mengingat pesan mantan Perdana Menteri Singapura Lee Kuan Yew yang menurutnya selalu menekankan agar pemerintah tidak menjanjikan kebahagiaan kepada masyarakat.

“Saya selalu ingat Lee Kuan Yew mengingatkan kami: ‘Jangan pernah menjanjikan kebahagiaan’,” ujar Yeo dalam wawancara tersebut.

Menurut Yeo, pemerintah dapat menjanjikan pembangunan ekonomi, infrastruktur, maupun pendidikan. Namun, kebahagiaan merupakan sesuatu yang tidak dapat dijanjikan oleh pemerintah.

“Kita bisa menjanjikan pembangunan ekonomi, infrastruktur, pendidikan, dan sebagainya. Tetapi jangan pernah menjanjikan kebahagiaan,” katanya.

Pernyataan tersebut kemudian dikaitkan Yeo dengan pengalamannya selama berada di pemerintahan Singapura. Ia menceritakan bahwa ketika dirinya menjabat di Kementerian Perdagangan dan Industri atau Ministry of Trade and Industry (MTI) serta Kementerian Luar Negeri atau Ministry of Foreign Affairs (MFA), pernah dilakukan survei mengenai kementerian yang memiliki keseimbangan kehidupan dan pekerjaan terbaik.

Menurut Yeo, hasil survei tersebut menunjukkan kondisi yang cukup kontras. MTI dan MFA disebut memiliki work-life balance yang buruk. Namun, pada saat yang sama, ia mengatakan kedua kementerian tersebut memiliki tingkat moral kerja yang tinggi.

“Baik MTI maupun MFA memiliki keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi yang buruk. Namun, semangat kerja kami sangat tinggi,” ujar Yeo.

Dari pengalaman tersebut, Yeo kemudian menyampaikan pandangannya bahwa ketidakbahagiaan terkadang dapat menjadi bagian dari proses mencapai suatu keberhasilan.

“Jadi, terkadang ketidakbahagiaan bisa menjadi prasyarat untuk mencapai suatu keberhasilan,” katanya.

Pernyataan tersebut disampaikan dalam suasana dialog yang diselingi tawa dan respons dari peserta. Mantan diplomat Singapura Kishore Mahbubani yang turut hadir dalam diskusi tersebut juga menyatakan persetujuannya terhadap pandangan Yeo.

Namun, pernyataan tersebut kemudian memunculkan perdebatan di ruang publik, terutama mengenai apakah tekanan hidup dan buruknya keseimbangan kerja memang harus dipandang sebagai bagian dari harga yang harus dibayar untuk mencapai keberhasilan ekonomi.

Sejumlah komentar di media sosial Bloomberg mempertanyakan sudut pandang tersebut karena dianggap berpotensi menormalisasi budaya kerja berlebihan. Di sisi lain, terdapat pula pandangan yang menyebut bahwa pemerintah memang tidak dapat menjamin kebahagiaan setiap individu, tetapi dapat menyediakan kondisi ekonomi dan sosial yang memungkinkan masyarakat mengejar kehidupan yang mereka anggap bahagia.

Menariknya, istilah “20 negara paling tidak bahagia” yang menjadi pembuka pertanyaan Mishal Husain juga perlu dilihat secara hati-hati. Dalam wawancara tersebut tidak dijelaskan secara spesifik daftar atau indeks yang digunakan sebagai dasar penyebutan tersebut. Sementara itu, World Happiness Report 2026 menempatkan Singapura di peringkat ke-36 dari 147 negara dan wilayah yang disurvei.

Bloomberg sendiri melaporkan bahwa Singapura merupakan negara dengan GDP per kapita tertinggi di Asia, tetapi berbagai survei kebahagiaan menunjukkan gambaran yang tidak selalu sejalan dengan pencapaian ekonominya. Bloomberg juga menyoroti cepatnya ritme kehidupan serta budaya kerja yang kompetitif sebagai bagian dari perdebatan mengenai kesejahteraan masyarakat Singapura.

Dengan demikian, pernyataan George Yeo tidak semata-mata berbicara mengenai apakah masyarakat Singapura bahagia atau tidak. Pernyataannya membuka diskusi yang lebih luas mengenai hubungan antara ambisi, tekanan, produktivitas, dan kesejahteraan.

Kesuksesan ekonomi sebuah negara pada akhirnya tidak selalu berjalan beriringan dengan pengalaman hidup setiap masyarakatnya. Infrastruktur, pendidikan dan pertumbuhan ekonomi dapat menjadi ukuran pembangunan, sementara rasa puas terhadap kehidupan merupakan persoalan yang jauh lebih kompleks.

Bagi Yeo, pengalaman selama berada di pemerintahan menunjukkan bahwa lingkungan kerja yang penuh tuntutan tidak selalu berarti rendahnya semangat untuk mencapai sesuatu. Namun, perdebatan yang muncul setelah wawancara tersebut juga memperlihatkan pertanyaan lain: sejauh mana tekanan dan tuntutan hidup dapat diterima sebagai bagian dari keberhasilan, dan kapan kondisi tersebut justru perlu dievaluasi kembali?

Tags: AsiaBloombergbudaya kerjaekonomi SingapuraGDP per kapitaGeorge YeoKabar5NewskebahagiaanLee Kuan YewSingapuraWork Life BalanceWorld Happiness Report
Previous Post

TNI AU Perkuat Kesiapan Evakuasi Medis Udara di Tengah Kondisi Darurat

Next Post

Tenis Kembali Naik Daun dan Mulai Jadi Bagian dari Gaya Hidup Aktif

Fajar Novryanto

Fajar Novryanto

Related Posts

Pertamina GP Indonesia 2026 Dorong Pertumbuhan Ekonomi Lokal di Lombok

Pertamina GP Indonesia 2026 Dorong Pertumbuhan Ekonomi Lokal di Lombok

by Fajar Novryanto
10 Oktober 2026
0

Kabar5News - Gelaran Pertamina Grand Prix of Indonesia 2026 di Pertamina Mandalika International Circuit, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), tidak...

OPEC+ Tahan Produksi Minyak November, Ada Apa dengan Pasar Energi Global?

OPEC+ Tahan Produksi Minyak November, Ada Apa dengan Pasar Energi Global?

by Fajar Novryanto
8 Oktober 2026
0

Kabar5News - Kelompok negara penghasil minyak OPEC+ kembali mengambil langkah yang menjadi perhatian pasar energi global. Tujuh negara anggota sepakat...

Pilih Paspor 5 atau 10 Tahun? Sesuaikan dengan Frekuensi Perjalanan Anda

Pilih Paspor 5 atau 10 Tahun? Sesuaikan dengan Frekuensi Perjalanan Anda

by Fajar Novryanto
7 Oktober 2026
0

Kabar5News - Sebelum mengurus paspor baru, calon pemohon perlu mempertimbangkan pilihan masa berlaku 5 atau 10 tahun. Keputusan tersebut tidak...

Kok Bisa? Tiket Domestik Justru Lebih Mahal dari Luar Negeri

Kok Bisa? Tiket Domestik Justru Lebih Mahal dari Luar Negeri

by Fajar Novryanto
28 September 2026
0

Kabar5News - Pernah menemukan harga tiket pesawat menuju luar negeri justru lebih murah dibandingkan penerbangan ke kota lain di Indonesia?...

Uang Bertanda Tangan Purbaya Diburu, Apa yang Membuatnya Istimewa?

Uang Bertanda Tangan Purbaya Diburu, Apa yang Membuatnya Istimewa?

by Fajar Novryanto
23 September 2026
0

Kabar5News - Sebuah lembar uang rupiah biasanya hanya dipandang sebagai alat untuk melakukan transaksi. Namun, ketika nama pejabat yang tercetak...

Next Post
Tenis Kembali Naik Daun dan Mulai Jadi Bagian dari Gaya Hidup Aktif

Tenis Kembali Naik Daun dan Mulai Jadi Bagian dari Gaya Hidup Aktif

TNI AD Bekali 228 Perwira Pengetahuan Siber dan Informasi Hadapi Perang Modern

TNI AD Bekali 228 Perwira Pengetahuan Siber dan Informasi Hadapi Perang Modern

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RECOMMENDED

TNI Perkuat Akses Desa lewat Karya Bakti di Pandeglang

TNI Perkuat Akses Desa lewat Karya Bakti di Pandeglang

10 Oktober 2026
YouTube Bakal Perketat Shorts, Kreator Dituntut Ubah Strategi Mencari Trafik

YouTube Bakal Perketat Shorts, Kreator Dituntut Ubah Strategi Mencari Trafik

10 Oktober 2026
  • 596 Followers
  • 24k Followers

MOST VIEWED

  • Cara Jadi Clipper Luar Negeri dengan Gaji Dollar

    Cara Jadi Clipper Luar Negeri dengan Gaji Dollar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Laporan Keuangan Pupuk Indonesia Wajar dan Sesuai Standar Akuntansi Keuangan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Lagi Tren! Begini Cara Bikin Foto Polaroid Bareng Idola Beserta Prompt-nya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apa Itu Wefluence? Disebut-sebut Bisa Menghasilkan Cuan Tak Terbatas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 20 Prompt Gemini AI Bahasa Indonesia di Bandara

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Kabar5news

Selamat Datang di Kabar5news.id, Portal Media Online yang dikelola oleh CV GEN MUDA NUSANTARA
SK Kementerian Hukum RI No: AHU-0009239-AH.01.14 Tahun 2025. NPWP: 1091.0312.1123.9016

  • BERANDA
  • HUBUNGI KAMI
  • PRIVACY POLICY
  • REDAKSI

© 2025 Kabar5news

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • NASIONAL
  • EKONOMI
  • GAYA HIDUP
  • OLAHRAGA
  • HIBURAN
  • IPTEK

© 2025 Kabar5news

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In