Kabar5News – Setiap kali bulan Ramadan tiba, terselip kisah luar biasa di tengah-tengah umat muslim yang menjalankan ibadah puasa.
Keberagaman yang menjadi akar kekuatan Nusantara ini tercermin dalam kehidupan masyarakat dalam kesehariannya, contohnya melestarikan toleransi antar umat beragama.
Dikala umat muslim berjuang menunaikan ibadah puasa Ramadan, kisah toleransi pun menghiasi di bulan penuh berkah tersebut.
Pemandangan adem dan menyejukkan terjadi di beberapa wilayah, tatkala keharuman hidangan takjil yang menggiurkan menyapa pada pelataran luar gereja, wihara hingga area depan kongregasi Suster Fransiskan.
Hidangan berbuka puasa mereka hadirkan secara cuma-cuma untuk umat muslim yang berpuasa, ada juga yang menjual makanan atau minuman manis sebagai wujud indahnya toleransi.
Begitu mengakarnya toleransi di Tanah Air ini, membuat salah satu punggawa andalan tim Garuda turut merasakan nikmatnya berpuasa, meskipun berbeda keyakinan.
Lantas, bagaimana detail kompilasi kisah-kisah toleransi dalam Islam tersebut menjadi pemersatu keberagaman? Simak ringkasan berikut yang dilansir dari berbagai sumber.
1. Wihara Dharma Bakti Berbagi Menu Buka Puasa
Wihara Dharma Bakti yang berlokasi di Jakarta, sering terlihat banyak warga antri mengambil makanan dan minuman untuk berbuka puasa.
Sejak awal-awal Ramadan, Wihara Dharma Bakti selalu aktif membagikan 300 porsi hidangan takjil untuk buka puasa bagi umat muslim maupun warga sekitar.
Kegiatan tersebut berkolaborasi dengan Babah Alun, berlangsung mulai tanggal 23 Februari sampai 15 Maret 2026.
2. Takjil Gratis Gereja Paulus Miki Salatiga
Kisah toleransi lain hadir di kota Salatiga, yang mana wajah toleransi penuh damai terlihat jelas pada pelataran Gereja Katolik Santo Paulus Miki Salatiga, Jawa Tengah.
100 paket takjil gratis selalu hadir setiap hari menyapa setiap pengendara yang lewat melalui senyum tulus pemuda-pemuda gereja dengan untaian kata “Selamat Berbuka”.
“Berbagi itu tidak hanya dengan yang seiman, tapi bisa antar-umat beragama. Ini adalah cerminan kecil dari besar dan luasnya rasa persaudaraan di Salatiga,” tutur Pastor Paroki Gereja Santo Paulus Miki Romo La Sadi Petrus saat ditemui awak media, Selasa (24/2/2026).
3. Biarawati Sukabumi Jualan Takjil Ramadan
Wajah toleransi yang menenangkan juga hadir di depan Kongregasi Suster Fransiskan Jalan Rumah Sakit, Kecamatan Cikole, Kota Sukabumi, Jawa Barat.
Dua meja kayu besar dengan empat wadah yang berisikan aneka makanan minuman manis, menyehatkan dan menyegarkan dijajarkan rapi oleh dua biarawati.
Bahkan gagasan berjualan takjil selama Ramadan merupakan bagian dari ide karyawannya yang beragama Islam.
Gagasan tersebut sudah mulai dilaksanakan sejak dua tahun ke belakang. Menunya sehat seperti es buah, kolak, bubur sumsum serta makanan ringan lainnya.
“Idenya karena kami itu bekerja sama dengan karyawan kami yang muslim juga, jadi kami berpartisipasi bagaimana kami bisa ikut ambil bagian dalam momen ramadan ini,” ungkap Maria saat bertemu awak media di Jalan Rumah Sakit Kota Sukabumi, Selasa (24/2/2026) sore.
“Ketika kami berjualan, ya mereka antusiasnya ikut membeli. Tidak melihat karena kami suster, mereka tetap membeli, mereka peduli, ramah ketika menyapa kami, kami senang, jadi ada komunikasi. kita sama-sama berpuasa, kita saling mendukung dalam masa puasa kita, meskipun proses puasa kita berbeda tapi kita saling mendukung, semangat untuk berpuasa salah satu bentuk toleransi beragama,” imbuhnya.
4. Sandy Walsh Bek Kanan Tim Garuda Menjalankan Puasa Meski Bukan Muslim
Kisah kebersamaan di ruang ganti timnas selalu menyuguhkan cerita menarik. Hal tersebut datang dari bek kanan andalan Tim Garuda, Sandy Walsh.
Ia pernah mencoba menjalankan ibadah puasa Ramadan, meskipun dirinya bukan muslim.
Keputusan tersebut bukanlah pencitraan tapi murni berasal dari hati serta mengobati rasa ingin tahu yang besar dan wujud penghormatan pada rekan-rekannya dalam skuad merah putih yang menjalankan puasa Ramadan.
Bek kelahiran Belgia tapi berdarah Belanda-Indonesia itu mencoba puasa satu minggu penuh. Karena ia ingin memahami rasanya menahan lapar dan haus, dari terbit fajar sampai matahari terbenam.
Menurut pendapatnya, tantangan paling besar bukan lapar dan haus. Namun, ia mau tidak mau harus menyesuaikan ritme hidup, termasuk bangun lebih pagi untuk sahur.
“Dimulai dengan bangun pagi untuk bisa mendapatkan makanan dan minuman, saya harus membiasakan diri,” ungkap Sandy melalui kanal YouTube pribadinya, @sandywalshofficial.










