Kabar5News – Kebaya bukan sebatas busana tradisional yang umumnya dipakai pada acara resmi atau perayaan budaya saja, ternyata didalamnya tersirat makna mendalam.
Sedikit menelisik ke belakang, tepatnya pada masa lampau. Kebaya bukan hanya berfungsi sebagai pakaian, cara menggunakannya, pemilihan jenis kain, detail aksesoris pelengkap lainnya merupakan penanda status sosial seseorang.
Sebagaimana diutarakan oleh Fashion Stylish serta Creative Director yang concern pada sejarah maupun budaya, Rumi Siddharta, mengungkapkan busana masa lalu punya makna lebih kompleks daripada sekarang.
Hanya dari busana yang dikenakan, orang lain bisa menilai latar belakang sosial, kedudukan, identitas budaya.
“Kalau kita melihat foto-foto lama atau arsip sejarah, kita sebenarnya bisa membaca siapa orang itu, berasal dari kelompok sosial mana, bahkan bagaimana posisi mereka di masyarakat hanya dari cara berpakaiannya,” kata Rumi dikutip dari Kompas.
Makna Kebaya Bukan Hanya Busana Tradisional Biasa
Maka dari itu, kebaya tidak sebatas busana tradisional yang dipakai dalam acara tertentu saja. Melainkan ada beberapa makna penting.
1. Penanda Kedudukan Sosial
Menurut penjelasan Rumi, pada masa lalu masyarakat memilih pakaian bukan hanya berdasarkan selera pribadi saja. Melainkan mengandung aturan, kebiasaan, nilai budaya yang menentukan style kebaya.
Bahkan, kedudukan sosial bisa dilihat juga dari pemilihan jenis kain, kualitas material, teknik pembuatan, dan motifnya.
Kalau dicermati lebih mendalam, ada motif maupun jenis kain tertentu yang biasanya dikenakan oleh bangsawan maupun keluarga kerajaan.
Maka, pakaian dalam hal ini kebaya pada masa itu sebagai bagian dari bahasa sosial yang mudah dikenali masyarakat.
“Kita sering melihat pakaian hanya sebagai sesuatu yang indah. Padahal, pada zamannya, pakaian adalah identitas,” ungkap Rumi.
2. Kebaya Sebagai Interaksi Budaya
Rumi menegaskan bahwa kebaya hadir dengan pelengkapnya. Umumnya dipadukan bersama kain, selendang, perhiasan maupun aksesori yang menunjukkan identitas pemakainya.
Perkembangan kebaya juga sedikit banyak dipengaruhi oleh India, Tiongkok, Arab, Persia maupun Eropa yang kemudian berpadu dengan tradisi lokal hingga melahirkan aneka jenis kebaya seperti sekarang.
Berbagai unsur budaya tersebut kemudian diolah lagi menjadi karakter busana khas yang ada di setiap daerah.
3. Simbol Kekayaan
Sementara itu, nilai pakaian atau kebaya pada masa lalu sangat berbeda jauh dengan sekarang.
Tekstil saat itu termasuk barang dengan nilai tinggi yang mana proses pembuatannya perlu, waktu, bahan, keterampilan tidak sedikit.
Sehingga, kebaya selalu dirawat dengan baik, lalu diwariskan dari generasi ke generasi, menjadi bagian pusaka keluarga.
“Dulu pakaian bukan barang sekali pakai. Nilainya sangat tinggi sehingga dijaga dan diwariskan,” tutur Rumi.
4. Bermakna Sejarah
Tanpa disadari, kebaya menyimpan perjalanan sejarah masyarakat yang memakainya.
Menurut Rumi, dari kebaya maupun kain bisa ditelusuri tentang perubahan struktur sosial, perdagangan, hubungan antar bangsa, dan perubahan gaya hidup masyarakat Nusantara.
“Kebaya adalah living tradition. Ia terus berkembang mengikuti zamannya, tetapi tetap membawa cerita tentang masyarakat yang melahirkannya,” ucap Rumi.
Kebaya menyimpan sejarah panjang perjalanan bangsa ini dalam mengkreasikan fashion memadukan ciri khas budaya lokal masing-masing daerah disertai keindahan mode yang bersifat long lasting.












