Kabar5News – Perjalanan Indonesia di Asian Games Aichi-Nagoya 2026 tidak hanya diwarnai perburuan medali. Sejumlah atlet juga menghadapi tantangan untuk menunjukkan perkembangan performa ketika berhadapan dengan pesaing terbaik Asia.
Hal tersebut terlihat dari penampilan Diva Renatta Jayadi dan Emilia Nova yang sama-sama berhasil mencapai final cabang atletik di Nagoya, Jepang.
Diva tampil pada nomor women’s pole vault atau lompat galah putri, sedangkan Emilia turun di nomor heptathlon atau saptalomba. Keduanya bertanding di Mizuho Sports Park, Nagoya, pada 25 September 2026.
Bagi Diva, keberhasilan mencapai final menjadi bagian penting dari persaingan di nomor yang membutuhkan kombinasi teknik, kecepatan, kekuatan, dan konsistensi. Ia kemudian mengakhiri pertandingan di posisi kelima dengan catatan lompatan 4,00 meter.
Sementara itu, Emilia menyelesaikan tujuh nomor dalam heptathlon dan mengumpulkan 5.279 poin. Nomor ini menguji kemampuan atlet secara menyeluruh karena terdiri dari berbagai disiplin, sehingga performa tidak ditentukan oleh satu jenis kemampuan saja.
Menariknya, Emilia tidak melihat hasil pertandingan hanya dari posisi akhirnya. Ia menilai ada beberapa nomor yang berjalan cukup baik, termasuk yang menghasilkan personal best, meski masih ada nomor lain yang belum sesuai dengan ekspektasinya.
“Ya lumayan lah, lumayan bagus. Cuma ada beberapa nomor yang bagus. Ada yang personal best, tapi ada beberapa nomor juga yang tak sesuai ekspektasi,” ujar Emilia seusai pertandingan.
Hal tersebut menunjukkan bahwa perjalanan seorang atlet di ajang besar tidak selalu dapat diukur hanya melalui medali. Catatan waktu, jarak, poin, peningkatan kemampuan, hingga pencapaian pribadi juga menjadi bagian dari evaluasi.
Konteks serupa terlihat dari cabang atletik lainnya. Manajer tim nasional atletik Suryo Agung Wibowo sebelumnya mengatakan pencapaian atlet di Asian Games perlu dilihat dari target performa yang telah ditetapkan, termasuk perkembangan catatan waktu, bukan semata-mata berdasarkan posisi akhir atau medali.
Bagi atlet seperti Diva dan Emilia, tampil di final Asian Games juga berarti berhadapan langsung dengan atlet-atlet papan atas Asia. Persaingan tersebut memberikan pengalaman sekaligus gambaran mengenai aspek yang masih dapat dikembangkan sebelum menghadapi kompetisi berikutnya.
Kehadiran Wakil Menteri Pemuda dan Olahraga Taufik Hidayat di tribun saat keduanya bertanding turut menjadi bentuk dukungan pemerintah terhadap perjuangan atlet Indonesia. Ia menyaksikan langsung penampilan Diva dan Emilia di Mizuho Sports Park.
Dari sisi hasil, Diva finis di posisi kelima, sementara Emilia menyelesaikan heptathlon dengan 5.279 poin. Namun, capaian keduanya tetap menjadi bagian dari perjalanan atletik Indonesia untuk terus meningkatkan kualitas di tingkat Asia.
Asian Games bukan hanya panggung untuk mencari siapa yang berdiri di podium. Bagi para atlet, kompetisi ini juga menjadi kesempatan mengukur kemampuan setelah menjalani proses latihan panjang, melihat sejauh mana perkembangan yang telah dicapai, dan mengetahui bagian mana yang masih harus diperbaiki.
Penampilan dua srikandi tersebut akhirnya membawa satu catatan penting: menembus final sudah menjadi bagian dari proses, tetapi evaluasi setelah pertandinganlah yang menentukan bagaimana seorang atlet berkembang pada kompetisi berikutnya.












