Kabar5News – Perfilman Indonesia kembali mendapat perhatian di panggung internasional melalui film IBUKU karya sutradara Eddie Cahyono. Film ini meraih penghargaan Special Jury Award dalam Busan International Film Festival (BIFF) 2026 di Korea Selatan.
Melansir dari akun Instagram @rayakanindonesia, pencapaian tersebut menjadi kabar membanggakan bagi perfilman Indonesia. Namun, di balik penghargaan itu, IBUKU juga membawa cerita tentang perjuangan seorang ibu, ikatan keluarga, dan realitas yang dihadapi pekerja migran Indonesia.
Film IBUKU mengikuti kisah Sumiati, seorang ibu yang berjuang menemui putrinya, Sri, yang menghadapi hukuman mati di Arab Saudi setelah dituduh membunuh majikannya. Dalam situasi penuh ketidakpastian, Sumiati berusaha mencari jalan untuk bertemu anaknya dan menghadapi persoalan yang mengancam kehidupan keluarganya.
Kisah tersebut tidak hanya menggambarkan kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Film ini juga memperlihatkan beratnya situasi ketika persoalan hukum, keterbatasan akses, dan jarak geografis menjadi penghalang bagi keluarga yang ingin memberikan dukungan kepada orang terdekat.
Mengangkat Realitas Pekerja Migran Indonesia
Kehidupan pekerja migran kerap dikaitkan dengan kesempatan memperoleh penghasilan dan memperbaiki kondisi ekonomi keluarga. Namun, pengalaman mereka juga dapat diwarnai berbagai tantangan, mulai dari persoalan pekerjaan hingga masalah hukum dan perlindungan ketika berada di negara lain.
Melalui perjalanan Sumiati, IBUKU membawa perhatian pada sisi kehidupan tersebut. Ketika seorang pekerja migran menghadapi persoalan serius, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh individu yang bersangkutan, tetapi juga oleh keluarga yang menunggu di tanah air.
Keluarga dapat menghadapi ketidakpastian, keterbatasan informasi, serta kesulitan untuk memberikan bantuan secara langsung. Dalam kondisi seperti itu, hubungan keluarga menjadi bagian penting dari perjuangan menghadapi situasi yang sulit.
Film ini mengajak penonton melihat persoalan pekerja migran melalui pengalaman personal, bukan semata-mata sebagai isu ekonomi atau ketenagakerjaan. Cerita yang berpusat pada hubungan ibu dan anak membuat persoalan tersebut terasa lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Penghargaan Internasional dan Cerita Kemanusiaan
Penghargaan Special Jury Award yang diraih IBUKU di Busan International Film Festival 2026 menjadi pencapaian bagi Eddie Cahyono dan tim produksi. Ajang ini mempertemukan berbagai karya sinema dari sejumlah negara dan memberikan ruang bagi cerita dengan latar serta perspektif yang beragam.
Kehadiran IBUKU di festival internasional juga memperlihatkan bagaimana cerita yang berangkat dari realitas sosial Indonesia dapat dibawa kepada penonton lintas negara. Persoalan keluarga, perjuangan, dan keadilan merupakan tema yang dapat dipahami melampaui perbedaan bahasa maupun budaya.
Di sisi lain, pencapaian ini menunjukkan bahwa film tidak hanya berfungsi sebagai hiburan. Melalui penggambaran tokoh dan konflik, film dapat membuka ruang diskusi mengenai persoalan sosial yang membutuhkan perhatian lebih luas.
Kisah Sumiati menjadi pengingat bahwa di balik persoalan hukum dan kehidupan pekerja migran, terdapat manusia yang memiliki keluarga, harapan, dan perjuangan masing-masing. Pengalaman tersebut menjadi sisi kemanusiaan yang dihadirkan IBUKU kepada penontonnya.
Penghargaan di Busan pun tidak hanya menjadi pencapaian bagi perfilman Indonesia, tetapi juga membuka kesempatan bagi cerita tentang masyarakat Indonesia untuk dikenal lebih luas. Melalui IBUKU, perjuangan seorang ibu menjadi pintu masuk untuk memahami persoalan keluarga dan pekerja migran dari sudut pandang yang lebih personal.











