Kabar5news – Mendekati bulan suci Ramadan, dalam sistem kalender Jawa dikenal dengan Ruwah. Ruwah merupakan bulan ke-8 yang bertepatan dengan bulan Sya’ban.
Dalam momen ini sebagian masyarakat Jawa, khususnya Jawa Tengah, DIY, dan Jawa Timur melakukan tradisi Nyadran, momen untuk mengenang dan mengirim doa bagi arwah leluhur.
Tradisi ini diisi berbagai kegiatan, seperti ziarah kubur, pembersihan makam, kenduri, dan sedekah makanan seperti ketan, kolak, apem sebelum memasuki bulan Ramadan.
Meski waktu sudah berlalu, tradisi ini masih dipertahankan oleh masyarakat Jawa, khususnya Jawa Tengah di era modernisasi seperti sekarang ini.
Prosesi Nyadran dalam pelaksanaanya tidak dilakukan secara mandiri, melainkan melibatkan seluruh elemen masyarakat.
Tradisi turun temurun menyambut Ramadan ini menggabungkan ziarah kubur, doa bersama, dan kenduri (makan bersama) sebagai wujud bakti kepada leluhur dan gotong royong warga.
Nyadran bukan sekedar proses ritual keagamaan, namun terselip nilai-nilai budaya serta sosial dalam kehidupan bermasyarakat yang sudah mengakar dalam masyarakat Jawa.
Sebagai warga negara Indonesia yang menjunjung tinggi nilai persatuan dan kesatuan, segala bentuk kearifan lokal harus tetap dilestarikan dan tetap dijaga.
Nyadran bisa dibilang sebagai bentuk gotong royong dan mempererat tali persaudaraan dan kebersamaan antar warga.
Artikel di bawah ini mengulas apa itu Nyadran, bagaimana prosesi rangkaian kegiatan tersebut? Berikut ulasan singkatnya.
Apa Itu Nyadran?
Istilah Nyadran sebenarnya berasal dari bahasa sansekerta, yaitu “sraddha” yang berarti keyakinan. Awal mula tradisi tersebut terkait dengan animisme, namun seiring berjalannya waktu telah menjadi akulturasi dengan budaya Islam. Seiring dengan masuknya Islam ke Pulau Jawa melalui Wali Songo.
Pada perkembangannya, Nyadran telah mengalami transformasi sebagai bentuk rasa syukur pada Tuhan atas segala nikmat yang telah diberikan selama ini.
Nyadran di Berbagai Daerah
Tak hanya Jawa Tengah, masing-masing daerah ternyata memiliki tradisi serupa Nyadran dengan penyebutan yang berbeda.
Sebut saja Banyumas menyebutnya nyadran, Temanggung dan Boyolali Sadranan. Jawa Timur menyebutnya sebagai Manganan atau Sedekah Bumi.
Walaupun terdapat perbedaan dalam hal penyebutan, intinya sama, yaitu mendoakan arawah para leluhur dan menjaga kebersamaan maupun gotong royong antar warga serta keluarga.
Sejarah Singkat Nyadran
Melansir Informasi dari laman resmi kendalkab, tradisi tersebut sudah ada sejak zaman Hindu-Budha, sebelum Islam masuk ke Tanah Air.
Sedikit flashback ke belakang, pada tahun 1284, ada suatu tradisi yang mirip dengan nyadran. Tapi istilahnya berbeda yaitu Sradha.
Serupa tapi tidak sama, prosesnya berupa memberikan sesaji, setelah itu mendoakan arwah orang yang meninggal dunia. Namun perlu digaris bawahi bahwa hal tersebut dilakukan sebagai bentuk penghormatan atau memperingati kematian Raja.
Ketika zaman semakin berkembang, tradisi Sradha mulai ramai dilakukan banyak kalangan. Apalagi makin lama mendapat banyak pengaruh dari ajaran Islam.
Pujian yang umumnya dibacakan saat Sradha, mulai berganti dengan membaca ayat suci Al-Qur’an, dzikir, tahlil maupun doa.
Sehingga menjadi populer dengan istilh nyadran yang dilakukan saat hari ke-10 bulan Rajab atau masuk bulan Sya’ban.
Walaupun pelaksanaan antar daerah bisa berbeda-beda. Nyadran biasanya dilaksanakan pada bulan Ruwah (menurut kalender Jawa) yang bertujuan menyambut datangnya bulan Ramadhan penuh berkah.
Apa Saja Kegiatan Nyadran?
Adapun kegiatan atau prosesi secara umum tradisi Nyadran, sebagai berikut:
- Bersik
Kegiatan berupa membersihkan makam leluhur dari membersihkan rerumputan hingga kotoran yang dilakukan secara gotong royong
- Kirab
Berupa arak-arakan peserta nyadran menuju ke lokasi upacara adat yang telah ditentukan.
- Ikrar
Aktifitas berisikan penyampaian maksud dari terlaksananya upacara Nyadran yang dilakukan Pemangku Adat setempat.
- Doa
Lebih mengara ke pembacaan doa bersama yang dipimpin oleh Pemangku Adat.
- Tasyakuran
Kegiatan ini berupa pelaksanaan prosesi makan bersama yang bisa diikuti oleh seluruh lapisan masyrakat sebagai wujud rasa syukur dan menjalin keakraban antar warga.












