Kabar5News – Di tengah gempuran kuliner modern yang serba instan, masyarakat Teon Nila Serua (TNS) di Maluku Tengah tetap setia mendekap erat warisan leluhur mereka: Inasua. Lebih dari sekadar metode pengawetan ikan, Inasua adalah manifestasi sejarah, identitas, dan filosofi hidup sebuah komunitas yang pernah dipaksa berdamai dengan kehilangan.
Tradisi Inasua berakar dari tiga pulau vulkanik di Laut Banda, yaitu Pulau Teon, Pulau Nila, dan Pulau Serua. Bagi masyarakat aslinya, laut bukan hanya sumber pangan, melainkan juga ruang hidup.
Namun, pada tahun 1978, sebuah peristiwa besar mengubah hidup mereka. Relokasi massal yang diinstruksikan pemerintah akibat ancaman letusan gunung berapi memaksa ribuan warga eksodus ke Pulau Seram.
Dalam perpindahan yang menyedihkan tersebut, masyarakat TNS tidak hanya membawa raga, tetapi juga “ingatan rasa”. Inasua menjadi satu-satunya rumah yang bisa mereka bawa ke tanah perantauan. Ia menjadi pengikat batin antara generasi yang lahir di tanah baru dengan tanah leluhur yang telah ditinggalkan.
Ritual dan Filosofi Pembuatan
​Secara etimologi, Inasua berasal dari bahasa setempat; Ina yang berarti ikan dan Sua yang berarti garam. Meski terlihat sederhana, proses pembuatannya merupakan bentuk kearifan lokal yang sakral.
Ikan pilihan, biasanya jenis ikan Infa (ikan babi) atau Flira, dibersihkan dan dilumuri garam, kemudian disimpan dalam wadah tertutup rapat yang disebut tempeng (dahulu menggunakan bambu).
​Waktu, adalah bumbu utama dalam Inasua. Proses fermentasi ini bisa berlangsung selama enam bulan hingga dua tahun. Semakin lama ikan disimpan, dagingnya akan berubah warna menjadi kemerahan dengan tekstur yang semakin lembut dan aroma yang semakin kuat. Proses penyimpanan yang memakan waktu lama ini mengajarkan masyarakat tentang kesabaran dan penghargaan terhadap proses alam.
Nilai Konservasi dalam Inasua
​Secara tersirat, tradisi Inasua menyimpan pesan konservasi yang sangat modern. Karena ikan hasil tangkapan dapat diawetkan dalam jangka waktu yang sangat lama, masyarakat tidak terdorong untuk mengeksploitasi laut setiap hari.
Ada jeda waktu di mana laut dibiarkan beristirahat dan populasi ikan dibiarkan pulih. Ini adalah model ketahanan pangan yang efisien, sebuah teknologi masa lalu yang menjawab tantangan masa depan.
Dalam adat TNS, Inasua juga berfungsi sebagai pemersatu. Hidangan ini selalu hadir dalam pertemuan-pertemuan penting dan menjadi simbol keramah-tamahan. Memberikan Inasua kepada tamu atau kerabat adalah bentuk penghormatan tertinggi, karena yang diberikan bukan sekadar ikan, melainkan hasil penantian panjang selama berbulan-bulan.
Saat ini, tantangan terbesar bagi budaya Inasua adalah keberlanjutan di tangan generasi muda. Tekanan zaman dan perubahan gaya hidup membuat para penggerak budaya TNS merasa perlu menyuarakan pentingnya merawat tradisi ini. Festival-festival adat kini mulai digalakkan sebagai panggung untuk membuktikan bahwa identitas TNS menolak untuk dilupakan.
Bagi masyarakat Teon Nila Serua, melestarikan Inasua adalah cara mereka mempertahankan jati diri sebagai orang TNS agar tetap hidup, meski tanah air asli mereka kini hanya terlihat sebagai bayangan biru di tengah Laut Banda.










