Kabar5News – Sebelum 17 Agustus 1945, Indonesia sempat merasakan kepahitan akibat penjajahan. Banyak bangsa lain menjajah negeri ini dengan tujuan eksploitasi ekonomi hingga hasil alam yang melimpah.
Dari sekian negara yang menjajah Indonesia, Belanda menjadi satu-satunya penjajah paling lama. Anehnya, rakyat negara ini tidak fasih dengan bahasa negeri kincir angin tersebut.
Penjajah umumnya meninggalkan jejak tertentu pada negara bekas jajahannya seperti hukum, politik, mentalitas, kebudayaan, linguistik (bahasa), dan lain-lain.
Bahkan, negara bekas jajahan Inggris seperti Singapura dan Malaysia. Rakyatnya sangat fasih berbahasa Inggris. Sementara itu, seluruh masyarakat Indonesia malah tidak bisa Bahasa Belanda.
Lantas, mengapa hal seperti itu bisa terjadi? Tentu saja ada penyebab utama yang jarang diketahui orang, simak penjelasan selengkapnya dalam artikel ini.
Penyebab Rakyat Indonesia Tidak Fasih Bahasa Belanda
Bahasa Belanda memang tidak dipakai untuk komunikasi harian. Namun, ada beberapa kata serapan yang diadopsi dari bahasa tersebut.
Contohnya seperti gordijn menjadi gorden, bioscoop menjadi bioskop, dan masih banyak lagi lainnya.
Perbedaan gaya menjajah antara Belanda dan Inggris dapat terlihat dari apa yang tercermin pada masyarakat negara jajahannya.
Inggris memang melakukan invasi kultural Barat pada masyarakat Melayu. Alhasil kebudayaan lokal membaur atau malah menghilang selamanya.
Dari situlah ada pengaruh besar dalam sektor bahasa masyarakat lokal, yang akhirnya mereka jadi lancar berbahasa Inggris.
Sedangkan Belanda tidak melakukan seperti yang dilakukan Inggris saat menjajah suatu negara. Sebagaimana diungkapkan oleh Peneliti Sejarah dari Nanyang Technological University.
Pendapat Ahli Terkait Masyarakat Indonesia yang Tidak Fasih Bahasa Belanda
Dilansir dari CNBC Indonesia, Peneliti Sejarah dari Nanyang Technological University, Christopher Reinhart mengutarakan bahwa ada dua sebab utama Belanda punya sikap beda terhadap kebudayaan asli Indonesia.
Sehingga tingkat kelancaran bahasa Belanda masyarakat Indonesia sangat rendah sekali. Berikut penjelasan singkatnya:
1. Sudut Pandang Struktur Kolonialisme Belanda
Masa penjajahan dulu masyarakat lokal dan orang Belanda memiliki struktur berbeda.
Orang-orang Belanda saat itu menganggap bahwa mereka termasuk golongan paling atas. Sedangkan warga lokal berada paling bawah.
Demi menjaga struktur tetap seperti itu, mereka tidak ingin membagi kebudayaan Belanda. Anggapannya ketika menyebarkan budaya itu sama saja mengakui bahwa penduduk lokal dan orang Belanda setara.
2. Belanda hanya Memandang Perspektif Eksploitasi Ekonomi
Belanda saat menjajah Nusantara hanya fokus pada eksploitasi ekonomi sebagai wujud karakteristik negara kolonial.
Peneliti Sejarah Christopher Reinhart mengungkapkan bahwa mereka tidak masalah tidak menyebarkan budaya.
“Snouck Hurgronje, salah satu pejabat pemerintah kolonial, pernah mengatakan bahwa ‘masalah kebudayaan tidak usah dipaksa. Biarlah bertumbuh dengan sendirinya, tanpa menghilangkan budaya lokal,” kata Reinhart dikutip dari CNBC Indonesia pada (13/8/2026).
Sebagai penjajah, bangsa Belanda memang konsisten fokus pada eksploitasi ekonomi tanpa merusak kebudayaan asli Nusantara.
Mereka tetap mengijinkan penduduk lokal untuk adopsi kebudayaan barat, pada dasarnya Belanda tidak membatasi akan hal tersebut.












