Kabar5News – Indonesia menjadi tempat belajar bagi perwira militer dari empat negara dalam bidang hidrografi. Perwira asal Pakistan, Kamboja, Vietnam, dan Brunei Darussalam mengikuti Pendidikan Spesialisasi Perwira Hidrografi Angkatan ke-24 Tahun 2026 di Pusat Pendidikan Hidro-Oseanografi (Pusdikhidros) TNI Angkatan Laut (TNI AL), Kelapa Gading, Jakarta Utara.
Program tersebut mempertemukan para perwira mancanegara dengan personel TNI AL untuk memperdalam kemampuan survei dan pemetaan wilayah perairan. Pendidikan ini tidak hanya berkaitan dengan bagaimana membuat peta laut, tetapi juga bagaimana menghasilkan data yang dapat digunakan untuk berbagai kebutuhan di wilayah maritim.
Komandan Pusat Hidro-Oseanografi Angkatan Laut (Danpushidrosal) Laksdya TNI Budi Purwanto menjelaskan bahwa data hidrografi memiliki peran penting dalam aktivitas di laut. Informasi mengenai kedalaman, arus, pasang surut hingga karakteristik dasar laut diperlukan agar berbagai kegiatan di perairan dapat dilakukan secara lebih aman dan terukur.
“Data batimetri, arus, pasang surut, dan karakteristik dasar laut yang akurat mendukung berbagai pergerakan kapal perang, mulai dari manuver kapal selam, pendaratan amfibi, hingga penentuan posisi ranjau laut,” kata Budi, dikutip dari keterangan Dispen Pushidrosal, Rabu (19/8).
Karena itu, kemampuan hidrografi memiliki cakupan yang cukup luas. Data yang dihasilkan tidak hanya berguna untuk kepentingan pertahanan, tetapi juga berkaitan dengan keselamatan pelayaran dan aktivitas kelautan lainnya.
Dalam pendidikan tersebut, para peserta juga dituntut memahami perkembangan teknologi yang digunakan untuk mendeteksi kondisi bawah laut. Beberapa perangkat yang perlu dikuasai antara lain sonar, magnetometer, hingga wahana tanpa awak yang dikendalikan dari jarak jauh.
Perangkat tersebut membantu menghasilkan gambaran mengenai kondisi bawah permukaan laut yang sulit diperoleh hanya melalui pengamatan biasa. Semakin akurat data yang dikumpulkan, semakin besar pula manfaatnya dalam mendukung pengambilan keputusan di wilayah perairan.
Pendidikan tersebut diikuti 17 peserta, yang terdiri dari 12 perwira TNI AL, empat perwira militer dari negara sahabat, serta satu personel Distrik Navigasi Tanjung Priok. Empat mahasiswa Sekolah Tinggi Teknologi Angkatan Laut (STTAL) dari jenjang sarjana dan magister juga turut mengikuti program tersebut.
Bagi Indonesia, keikutsertaan perwira dari empat negara juga menjadi bagian dari pertukaran pengetahuan di bidang maritim. Sementara bagi negara peserta, pendidikan di Pusdikhidros memberikan kesempatan untuk memperkuat kemampuan personelnya dalam menghadapi kebutuhan survei dan pemetaan laut yang semakin mengandalkan teknologi.
Budi pun mengingatkan para perwira agar tidak hanya mengandalkan kemampuan teknis, tetapi juga pengalaman lapangan dan integritas dalam menjalankan tugas.
“Jadilah perwira hidrografi yang menguasai ilmu, teknologi, dan medan,” tutur Budi.
Pendidikan ini juga berlangsung sejalan dengan Peraturan Presiden Nomor 11 Tahun 2026 tentang Survei Hidrografi dan Pemetaan Hidrografi Nasional, yang memperkuat posisi Pushidrosal dalam validasi data survei kelautan di wilayah Indonesia.
Dengan demikian, kerja sama melalui pendidikan hidrografi tersebut menunjukkan bahwa pemetaan laut memiliki peran strategis dalam dunia maritim. Bukan hanya untuk mengetahui bentuk dan kedalaman perairan, tetapi juga menjadi dasar bagi keselamatan pelayaran, pengelolaan wilayah laut, hingga mendukung kebutuhan pertahanan.










