Kabar5News – Menonton film di bioskop selama ini identik dengan gedung besar, pusat perbelanjaan, dan kawasan perkotaan. Namun, konsep tersebut mulai mendapatkan alternatif melalui kehadiran Bioskop Rakyat atau BIOSRA.
Konsep yang dikembangkan Persatuan Film Keliling Indonesia (PERFIKI) ini telah hadir di Padukuhan Ngebel, Kalurahan Tamantirto, Kapanewon Kasihan, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta.
BIOSRA Kasihan mulai dibuka untuk umum pada 1 Agustus 2026 dan menawarkan tiket mulai Rp10 ribu. Kehadirannya memberikan alternatif hiburan layar lebar bagi masyarakat sekitar yang sebelumnya harus menuju kawasan Kota Yogyakarta untuk menonton film.
Kini, PERFIKI menyiapkan pengembangan Bioskop Rakyat di 50 titik lainnya. Namun, di balik rencana tersebut ada sisi lain yang menarik untuk dilihat.
Membawa Bioskop Lebih Dekat
Persoalan akses menjadi salah satu hal yang coba dijawab melalui konsep Bioskop Rakyat.
Tidak semua masyarakat tinggal di wilayah yang memiliki fasilitas layar lebar. Karena itu, kehadiran bioskop di lokasi yang lebih dekat dapat mengurangi jarak dan biaya yang harus dikeluarkan masyarakat untuk menikmati film.
Pengalaman BIOSRA Kasihan menunjukkan bagaimana konsep tersebut dapat diterapkan di tingkat lokal. Lokasinya membuat masyarakat sekitar memiliki pilihan hiburan tanpa harus selalu pergi ke pusat Kota Yogyakarta.
Bukan Sekadar Tempat Menonton
Sisi lain dari BIOSRA adalah potensinya sebagai ruang berkumpul masyarakat.
BIOSRA Kasihan tidak hanya digunakan untuk pemutaran film, tetapi juga dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan seperti rapat, presentasi, diskusi, hingga acara masyarakat.
Konsep seperti ini membuat bioskop memiliki fungsi yang lebih luas. Ruang pemutaran film dapat berkembang menjadi tempat bertemu komunitas sekaligus ruang kegiatan kreatif masyarakat.
Ada Peluang bagi UMKM
Kehadiran bioskop di daerah juga berpotensi memberikan dampak bagi pelaku usaha di sekitarnya.
Di BIOSRA Kasihan, produk makanan dan minuman dari UMKM lokal turut tersedia bagi pengunjung. Dengan demikian, aktivitas menonton dapat berjalan beriringan dengan kegiatan ekonomi masyarakat sekitar.
Jika konsep serupa diterapkan di titik-titik berikutnya, Bioskop Rakyat berpotensi menjadi bagian dari ekosistem ekonomi lokal, bukan hanya tempat pemutaran film.
Membuka Ruang bagi Film Lokal
Semakin banyak titik pemutaran juga berarti semakin banyak ruang bagi film untuk bertemu penonton.
BIOSRA Kasihan bahkan disebut menjadi wadah apresiasi bagi karya sineas lokal dan komunitas film independen.
Hal ini membuat keberadaan Bioskop Rakyat menarik bukan hanya dari sisi harga tiket, tetapi juga karena dapat membuka ruang bagi perkembangan komunitas dan perfilman di daerah.
Tantangan di 50 Titik
Rencana pengembangan 50 titik tentu bukan hanya soal membangun ruang pemutaran.
Ketersediaan film, kualitas fasilitas, jumlah penonton, harga tiket, hingga keberlanjutan operasional menjadi sejumlah hal yang perlu diperhatikan.
Sebab, menghadirkan bioskop merupakan satu tahap. Memastikan bioskop tersebut terus hidup dan menjadi bagian dari aktivitas masyarakat adalah tantangan berikutnya.
Pada akhirnya, Bioskop Rakyat membawa gagasan bahwa layar film tidak harus selalu menunggu masyarakat datang ke kota.
Melalui pengembangan di berbagai daerah, bioskop justru dapat hadir lebih dekat dengan masyarakat, sekaligus membuka ruang bagi komunitas, sineas lokal, dan pelaku ekonomi kreatif.












