Kabar5News – Peringatan Hari Komando Pasukan Khusus (Kopassus) yang jatuh setiap tanggal 16 April menjadi momentum penting dalam sejarah pertahanan Indonesia. Pada tahun 2026 ini, Kopassus genap berusia 74 tahun.
Mengusung tema “Garda Senyap Untuk Negeri”, yang mencerminkan karakter prajurit komando yang bekerja secara rahasia, cepat, dan mematikan, namun tetap menjunjung tinggi profesionalisme dan dedikasi untuk bangsa.
Penetapan tanggal 16 April merujuk pada pembentukan Kesatuan Komando Teritorium III pada 1952, yang menjadi cikal bakal lahirnya Kopassus.
Latar belakang pembentukan pasukan ini tidak lepas dari pengalaman operasi militer saat menghadapi pemberontakan Republik Maluku Selatan (RMS) pada 1950.
Dari peristiwa tersebut, TNI menyadari pentingnya memiliki pasukan khusus yang mampu bergerak cepat, presisi, dan unggul dalam pertempuran individu.
Gagasan ini pertama kali dicetuskan oleh Letkol Slamet Riyadi dan kemudian diwujudkan oleh Kolonel A.E. Kawilarang.
Komandan pertama Kopassus, Mayor Moch. Idjon Djanbi, turut membentuk karakter khas pasukan baret merah: disiplin tinggi, tangguh, senyap, dan mematikan di setiap operasi.
Perjalanan dan Struktur Kopassus
Dalam perkembangannya, satuan ini mengalami beberapa perubahan nama, mulai dari Kesatuan Komando Angkatan Darat, RPKAD, hingga Kopassus yang resmi digunakan sejak 1985.
Saat ini, Kopassus memiliki beberapa satuan dengan spesialisasi berbeda, seperti Grup-1/Parako dengan kemampuan lintas udara, Grup-2/Sandha untuk operasi sandi yudha, serta Grup-3 yang fokus pada intelijen dan sabotase.
Selain itu, terdapat Pusat Pendidikan dan Latihan Pasukan Khusus (Pusdiklatpassus) di Batujajar yang mencetak prajurit dengan kemampuan tempur dan survival tingkat tinggi. Satuan elit Sat-81/Gultor juga menjadi ujung tombak dalam operasi kontra-terorisme yang bersifat sangat rahasia.
Tugas Pokok Kopassus
Sebagai pasukan elit TNI Angkatan Darat, Kopassus memiliki tugas pokok yang bersifat strategis dan khusus. Tugas tersebut meliputi operasi khusus seperti infiltrasi ke wilayah musuh, sabotase, hingga pengintaian yang dilakukan secara senyap.
Kopassus juga berperan dalam operasi kontra-terorisme, khususnya dalam pembebasan sandera dan penanganan ancaman teror berisiko tinggi.
Selain itu, Kopassus menjalankan operasi intelijen untuk mengumpulkan informasi strategis, serta operasi lintas udara guna mempercepat mobilisasi pasukan ke daerah operasi. Dalam kondisi tertentu, mereka juga dilibatkan dalam operasi militer dalam negeri untuk menjaga stabilitas dan keamanan nasional.
Operasi dan Pengabdian
Rekam jejak Kopassus diwarnai berbagai operasi penting, salah satunya Operasi Mapenduma tahun 1996 di Papua yang berhasil membebaskan sandera dalam kondisi medan ekstrem. Keberhasilan ini menjadi bukti kemampuan taktis dan profesionalisme pasukan baret merah dalam menjalankan misi berisiko tinggi.
Tidak hanya dalam operasi militer, Kopassus juga aktif dalam kegiatan sosial seperti bantuan bencana, bakti kesehatan, dan kegiatan kemanusiaan lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa peran Kopassus tidak hanya sebagai kekuatan tempur, tetapi juga bagian dari pengabdian kepada masyarakat.
Refleksi HUT ke-74 Kopassus
Peringatan Hari Kopassus setiap 16 April bukan sekadar seremoni, tetapi juga refleksi atas perjalanan panjang dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dengan semangat “Garda Senyap Untuk Negeri”, Kopassus terus bertransformasi menjadi pasukan yang modern, profesional, dan adaptif terhadap berbagai tantangan masa depan.
Di usia ke-74 ini, Kopassus menegaskan komitmennya sebagai garda terdepan—bergerak dalam senyap, namun memberikan dampak besar bagi bangsa dan negara.












