Kabar5News – Kebiasaan mendengkur saat tidur bisa menjadi tanda gangguan serius pada tubuh hingga mengarah pada stroke maupun demensia.
Kalau Anda atau anggota keluarga ada yang sering mendengkur (ngorok) saat tidur, jangan dianggap sepele, apalagi dibiarkan. Sebab, risiko tersembunyi berakibat fatal jika dibiarkan.
Sebagaimana diutarakan oleh Kepala Neurologi, Epileptology, dan Sleep Medicine di Manipal Hospital Old Airport Road, Bengaluru, India, Dr. Pramod Krishnan, yang mana mendengkur bukan hanya kebiasaan, tetapi menjadi gejala obstructive sleep apnea (OSA) atau apnea tidur obstruktif.
“Semakin banyak bukti ilmiah menunjukkan bahwa mendengkur bukanlah hal yang bisa dianggap sepele. Kondisi ini dapat menjadi tanda gangguan tidur serius yang disebut obstructive sleep apnea,” ungkap Krishnan dikutip dari Hindustan Times, Selasa (7/7/2026).
OSA sendiri termasuk gangguan tidur yang mengakibatkan saluran pernafasan atas tersumbat ketika kondisi terlelap.
Akibat kondisi tersebut, napas bisa berulang kali berhenti lalu kembali sepanjang malam. Sebenarnya bukan hanya mendengkur saja, melainkan ada gejala lain dari OSA.
Umumnya berupa tidur tapi saat bangun badan tidak segar, mengantuk berlebihan pada pagi atau siang hari, mengalami sakit kepala saat bangun tidur, sulit konsentrasi.
Namun, Krishnan mengungkapkan kalau mendengkur tanpa disertai tanda-tanda seperti itu, biasanya tidak mengkhawatirkan.
Sebab Ngorok Bisa Memicu Stroke dan Demensia
Seseorang yang mengidap OSA umumnya mengalami penurunan kadar oksigen dalam darah secara berulang, karena saluran napas tersumbat ketika tidur hingga mengalami gangguan terus-menerus.
“Pada penderita OSA, tidur menjadi terfragmentasi karena kadar oksigen darah berulang kali turun akibat sumbatan pada saluran napas bagian atas. Napas tampak berhenti dan kembali berlangsung berulang kali selama tidur,” tuturnya.
Lebih lanjut ia menambahkan bahwa, kurangnya kualitas tidur secara terus-menerus bisa memunculkan berbagai penyakit, termasuk gangguan otak seperti stroke dan demensia.
Sementara itu, penurunan kadar oksigen yang berulang akan menimbulkan reaksi peradangan, stres oksidatif, bahkan kerusakan sel-sel saraf, khususnya bagian otak yang berperan dalam memori dan fungsi kognitif.
Cara Mengobati Sleep Apnea
Gangguan tidur semacam ini sebaiknya cepat ditangani, apalagi jika mengalami gangguan terus-menerus dengan gejala tambahan lain yang menyertainya di atas.
Khrisnan menjelaskan bahwa, terapi utama bagi penderita OSA menggunakan CPAP atau Continuous Positive Airway Pressure.
Alat tersebut dapat membantu penderita menjaga saluran napas tetap terbuka waktu tidur. Penurunan berat badan juga sebagai langkah utama mengurangi risiko penyakit berbahaya.











