Kabar5news
Sabtu,14 Maret , 2026
  • Login
  • BERANDA
  • NASIONAL
  • EKONOMI
  • GAYA HIDUP
  • OLAHRAGA
  • HIBURAN
  • IPTEK
No Result
View All Result
  • BERANDA
  • NASIONAL
  • EKONOMI
  • GAYA HIDUP
  • OLAHRAGA
  • HIBURAN
  • IPTEK
No Result
View All Result
Kabar5news
No Result
View All Result
Home HIBURAN

Malam Selikuran, Tradisi Menjemput Lailatul Qadar di Jantung Jawa

Para wali menggunakan tradisi ini sebagai sarana dakwah yang persuasif

Kurt Morrison by Kurt Morrison
13 Maret 2026
in HIBURAN
0
Malam Selikuran, Tradisi Menjemput Lailatul Qadar di Jantung Jawa

Ilustrasi Malam Selikuran. Gambar: Gemini AI

Share on FacebookShare on TwitterShare on WhatappShare on Line

Kabar5News – Memasuki fase sepuluh hari terakhir Ramadan, atmosfer di 2 kota pusat kebudayaan Jawa yakni Solo dan Yogyakarta mengalami perubahan yang magis. Di saat masyarakat mulai sibuk dengan persiapan mudik dan belanja lebaran, keraton dan warga setempat justru bersiap menyambut salah satu tradisi paling sakral dalam kalender Islam-Jawa: Malam Selikuran.

Malam Selikuran adalah sebuah manifestasi budaya yang mempertemukan kedalaman spiritualitas Islam dengan keagungan tradisi keraton yang telah terjaga selama berabad-abad.

RELATED POSTS

Lebaran 2026 Jatuh Tanggal Berapa? Ini Perbandingan Versi Muhammadiyah, Pemerintah, NU, dan Tarekat

Resmi Jadi Film Indonesia Terlaris Sepanjang Masa, Film ‘Agak Laen: Menyala Pantiku’ Bercerita Tentang Apa?

​Nama “Selikuran” berasal dari kata selikur dalam bahasa Jawa yang berarti dua puluh satu. Tradisi ini diselenggarakan setiap malam ke-21 Ramadan sebagai penanda dimulainya sepuluh hari terakhir bulan suci.

Secara historis, Malam Selikuran diyakini telah ada sejak zaman Sultan Agung dari Kerajaan Mataram Islam. Namun, akarnya sering kali ditarik lebih jauh ke masa Wali Songo. Para wali menggunakan tradisi ini sebagai sarana dakwah yang persuasif. Untuk mengajak masyarakat giat beribadah di penghujung Ramadan, mereka mengemas momen “berburu” Lailatul Qadar dengan perayaan yang melibatkan kegembiraan rakyat, sedekah makanan, dan cahaya obor.

Prosesi Kirab dan Ribuan Tumpeng

Puncak dari Malam Selikuran adalah prosesi kirab atau pawai yang memikat mata. Di Solo, misalnya, ribuan abdi dalem Keraton Kasunanan Surakarta mengenakan pakaian adat lengkap, berjalan kaki mengiringi tumpeng-tumpeng yang ditata rapi.

Rombongan ini biasanya dilepas dari Bangsal Ponconiti menuju Masjid Agung atau Taman Sriwedari. Yang membuat suasana terasa sangat syahdu adalah ribuan obor atau lampion yang dibawa oleh para peserta kirab.

Di akhir perjalanan, tumpeng-tumpeng tersebut, yang disebut Tumpeng Sewu, didoakan oleh para ulama keraton. Doa dipanjatkan untuk keselamatan bangsa, keberkahan bagi pemimpin, dan harapan agar seluruh umat Muslim dipertemukan dengan kemuliaan malam Lailatul Qadar.

Setelah doa selesai, tumpeng tersebut dibagikan kepada masyarakat yang telah menunggu sejak sore. Momen berebut berkah tumpeng ini menjadi simbol kebersamaan dan kegembiraan.

​Setiap elemen dalam Malam Selikuran memiliki makna filosofis yang mendalam. Obor yang menyala bukan hanya berfungsi sebagai alat penerang jalan. Dalam konteks spiritual, obor melambangkan hidayah atau cahaya Tuhan yang diharapkan menerangi jalan hidup manusia yang penuh kegelapan dan dosa.

Sementara itu, nasi tumpeng yang berbentuk kerucut melambangkan hubungan vertikal antara manusia dengan Sang Pencipta (Hablum Minallah). Bentuknya yang mengarah ke atas mengingatkan manusia untuk selalu memusatkan tujuan hidupnya kepada Yang Maha Kuasa, terutama di malam-malam ganjil Ramadan yang penuh rahasia tuhan.

Bagi masyarakat Jawa, Malam Selikuran adalah cara mereka memuliakan Ramadan, sebuah perpaduan antara kerendahan hati manusia di hadapan Tuhan dan keluhuran budi di hadapan sesama.

Tags: Bulan Suci RamadhanLailatul QadarMalam SelikuranRamadhan 2026SoloYogyakarta
Previous Post

Skill dan Tools Kreator untuk Bikin Konten Viral di Wefluence

Next Post

Lebaran 2026 Jatuh Tanggal Berapa? Ini Perbandingan Versi Muhammadiyah, Pemerintah, NU, dan Tarekat

Kurt Morrison

Kurt Morrison

Related Posts

Lebaran 2026 Jatuh Tanggal Berapa? Ini Perbandingan Versi Muhammadiyah, Pemerintah, NU, dan Tarekat

Lebaran 2026 Jatuh Tanggal Berapa? Ini Perbandingan Versi Muhammadiyah, Pemerintah, NU, dan Tarekat

by Fajar Novryanto
13 Maret 2026
0

Kabar5News - Penentuan Hari Raya Idul Fitri atau Lebaran sering kali menjadi perhatian masyarakat setiap tahunnya. Hal ini karena sejumlah...

Resmi Jadi Film Indonesia Terlaris Sepanjang Masa, Film ‘Agak Laen: Menyala Pantiku’ Bercerita Tentang Apa?

Resmi Jadi Film Indonesia Terlaris Sepanjang Masa, Film ‘Agak Laen: Menyala Pantiku’ Bercerita Tentang Apa?

by Mera Puspita Sari
12 Maret 2026
0

Kabar5News - Film Agak Laen: Menyala Pantiku! berhasil menjadi film paling laris sepanjang masa di Indonesia tepatnya pada Selasa, (10/3/2026)....

Novelis dan Jurnalis Ulas Prosa ‘Di Bandung Cinta Bersemi’ Karya Taufan Hunneman, Bagaimana Katanya?

Novelis dan Jurnalis Ulas Prosa ‘Di Bandung Cinta Bersemi’ Karya Taufan Hunneman, Bagaimana Katanya?

by Redaksi
12 Maret 2026
0

Kabar5News - Prosa sastra berjudul “Di Bandung Cinta Bersemi” mencuri perhatian novelis muda, Meta Fischer. Prosa tersebut rilis di Kabar5News...

Prosa ‘Kenangan Anak Muda’ Karya Taufan Hunneman dalam Pandangan Aktivis dan Jurnalis

Prosa ‘Kenangan Anak Muda’ Karya Taufan Hunneman dalam Pandangan Aktivis dan Jurnalis

by Redaksi
11 Maret 2026
0

Kabar5News – Ketua Forum Bersama Bhinneka Tunggal Ika, Taufan Hunneman kambali menelurkan prosa terbarunya. Kali ini prosa Taufan berjudul “Kenangan...

Ilustrasi Opa Untu yang bersedih karena kehilangan anaknya (Foto: Microsoft Copilot)

Minahasa 1950

by Redaksi
11 Maret 2026
0

Sebuah prosa sastra karya Taufan Hunneman Kabar5News - Hari itu, Tomohon sepi dan panas benderang tidak seperti biasanya. Opa Untu...

Next Post
Lebaran 2026 Jatuh Tanggal Berapa? Ini Perbandingan Versi Muhammadiyah, Pemerintah, NU, dan Tarekat

Lebaran 2026 Jatuh Tanggal Berapa? Ini Perbandingan Versi Muhammadiyah, Pemerintah, NU, dan Tarekat

Prabowo Bentuk Satgas Pembiayaan Taman Nasional, Dorong Pengelolaan Berkelanjutan

Prabowo Bentuk Satgas Pembiayaan Taman Nasional, Dorong Pengelolaan Berkelanjutan

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

RECOMMENDED

Cara Membayar Zakat Fitrah Secara Online, Praktis dan Mudah Dilakukan

Cara Membayar Zakat Fitrah Secara Online, Praktis dan Mudah Dilakukan

14 Maret 2026
Prabowo Bentuk Satgas Pembiayaan Taman Nasional, Dorong Pengelolaan Berkelanjutan

Prabowo Bentuk Satgas Pembiayaan Taman Nasional, Dorong Pengelolaan Berkelanjutan

13 Maret 2026
  • 640 Followers
  • 23.9k Followers

MOST VIEWED

  • Laporan Keuangan Pupuk Indonesia Wajar dan Sesuai Standar Akuntansi Keuangan

    Laporan Keuangan Pupuk Indonesia Wajar dan Sesuai Standar Akuntansi Keuangan

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Lagi Tren! Begini Cara Bikin Foto Polaroid Bareng Idola Beserta Prompt-nya

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Apa Itu Wefluence? Disebut-sebut Bisa Menghasilkan Cuan Tak Terbatas

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Prompt Gemini Foto Pakai Jas Hitam dan Pegang Bunga Mawar

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 20 Prompt Gemini AI Bahasa Indonesia di Bandara

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
Kabar5news

Selamat Datang di Kabar5news.id, Portal Media Online yang dikelola oleh CV GEN MUDA NUSANTARA
SK Kementerian Hukum RI No: AHU-0009239-AH.01.14 Tahun 2025. NPWP: 1091.0312.1123.9016

  • BERANDA
  • HUBUNGI KAMI
  • PRIVACY POLICY
  • REDAKSI

© 2025 Kabar5news

No Result
View All Result
  • BERANDA
  • NASIONAL
  • EKONOMI
  • GAYA HIDUP
  • OLAHRAGA
  • HIBURAN
  • IPTEK

© 2025 Kabar5news

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In