Kabar5News – Memasuki fase sepuluh hari terakhir Ramadan, atmosfer di 2 kota pusat kebudayaan Jawa yakni Solo dan Yogyakarta mengalami perubahan yang magis. Di saat masyarakat mulai sibuk dengan persiapan mudik dan belanja lebaran, keraton dan warga setempat justru bersiap menyambut salah satu tradisi paling sakral dalam kalender Islam-Jawa: Malam Selikuran.
Malam Selikuran adalah sebuah manifestasi budaya yang mempertemukan kedalaman spiritualitas Islam dengan keagungan tradisi keraton yang telah terjaga selama berabad-abad.
Nama “Selikuran” berasal dari kata selikur dalam bahasa Jawa yang berarti dua puluh satu. Tradisi ini diselenggarakan setiap malam ke-21 Ramadan sebagai penanda dimulainya sepuluh hari terakhir bulan suci.
Secara historis, Malam Selikuran diyakini telah ada sejak zaman Sultan Agung dari Kerajaan Mataram Islam. Namun, akarnya sering kali ditarik lebih jauh ke masa Wali Songo. Para wali menggunakan tradisi ini sebagai sarana dakwah yang persuasif. Untuk mengajak masyarakat giat beribadah di penghujung Ramadan, mereka mengemas momen “berburu” Lailatul Qadar dengan perayaan yang melibatkan kegembiraan rakyat, sedekah makanan, dan cahaya obor.
Prosesi Kirab dan Ribuan Tumpeng
Puncak dari Malam Selikuran adalah prosesi kirab atau pawai yang memikat mata. Di Solo, misalnya, ribuan abdi dalem Keraton Kasunanan Surakarta mengenakan pakaian adat lengkap, berjalan kaki mengiringi tumpeng-tumpeng yang ditata rapi.
Rombongan ini biasanya dilepas dari Bangsal Ponconiti menuju Masjid Agung atau Taman Sriwedari. Yang membuat suasana terasa sangat syahdu adalah ribuan obor atau lampion yang dibawa oleh para peserta kirab.
Di akhir perjalanan, tumpeng-tumpeng tersebut, yang disebut Tumpeng Sewu, didoakan oleh para ulama keraton. Doa dipanjatkan untuk keselamatan bangsa, keberkahan bagi pemimpin, dan harapan agar seluruh umat Muslim dipertemukan dengan kemuliaan malam Lailatul Qadar.
Setelah doa selesai, tumpeng tersebut dibagikan kepada masyarakat yang telah menunggu sejak sore. Momen berebut berkah tumpeng ini menjadi simbol kebersamaan dan kegembiraan.
Setiap elemen dalam Malam Selikuran memiliki makna filosofis yang mendalam. Obor yang menyala bukan hanya berfungsi sebagai alat penerang jalan. Dalam konteks spiritual, obor melambangkan hidayah atau cahaya Tuhan yang diharapkan menerangi jalan hidup manusia yang penuh kegelapan dan dosa.
Sementara itu, nasi tumpeng yang berbentuk kerucut melambangkan hubungan vertikal antara manusia dengan Sang Pencipta (Hablum Minallah). Bentuknya yang mengarah ke atas mengingatkan manusia untuk selalu memusatkan tujuan hidupnya kepada Yang Maha Kuasa, terutama di malam-malam ganjil Ramadan yang penuh rahasia tuhan.
Bagi masyarakat Jawa, Malam Selikuran adalah cara mereka memuliakan Ramadan, sebuah perpaduan antara kerendahan hati manusia di hadapan Tuhan dan keluhuran budi di hadapan sesama.












