Kabar5News – Drama kehidupan yang berlatar belakang sejarah selalu memiliki daya tarik tersendiri untuk dijadikan sarana perenungan.
Di balik deretan fakta sejarah dan peristiwa besar yang tercatat dalam buku teks, selalu terselip kisah-kisah kemanusiaan, pergulatan batin, pengorbanan, serta luka-luka tak kasat mata yang dialami oleh individu-individu di dalamnya.
Prosa ini berhasil merangkum fragmen sejarah tersebut menjadi cermin yang merefleksikan bahwa di balik setiap keputusan politik besar, terdapat kehidupan keluarga yang menjadi taruhannya.
Pelajaran dan hikmah tentang kesetiaan, ego, trauma, serta penyesalan menjadi poin yang sangat kuat untuk dipetik dari narasi ini.
Fokus utama prosa ini terletak pada dinamika hubungan yang tragis antara Opa Untu dan istrinya, Sonya.
Penulis dengan apik menggambarkan Opa Untu sebagai sosok yang memegang teguh prinsip namun harus menanggung beban “pengkhianatan” sejarah.
Ia adalah seorang mantan KNIL yang memilih setia pada Republik, namun kemudian merasa dikecewakan oleh arah politik masa itu.
Di sisi lain, Sonya adalah karakter yang luar biasa. Ia adalah perempuan tangguh yang rela melepas kenyamanan hidup, termasuk status sosial dan fasilitas sebagai lulusan perawat sekolah Belanda, hanya demi mendampingi suaminya berjuang di gunung.
Namun, tragedi sesungguhnya bukan terjadi di medan perang, melainkan di dalam rumah tangga mereka.
Kematian putra kesayangan mereka, Alex, akibat konflik Permesta menjadi titik balik yang menghancurkan segalanya.
Kematian Alex bukan sekedar kehilangan seorang anak, tetapi juga menjadi katalisator yang mengubah cinta menjadi dendam dan kehangatan menjadi kebekuan.
Sonya, yang berduka, justru menemukan dirinya terjepit di antara kesedihan mendalam dan kemarahan terhadap suaminya yang dianggap gagal melindungi Alex.
Opa Untu, yang tenggelam dalam rasa bersalah, justru memilih jalan pelarian yang merusak diri sendiri dan pernikahannya.
Kontras antara masa lalu mereka yang penuh pengorbanan di gunung dan kehancuran rumah tangga mereka setelah perang usai menciptakan atmosfer dramatis yang sangat menyentuh.
Penulis patut diapresiasi karena ketelitiannya dalam merangkai situasi sosial-politik Indonesia era 1950-an.
Latar belakang sejarah seperti pemberontakan Permesta, ketegangan Nasakom, hingga pergeseran loyalitas militer disisipkan secara natural tanpa membebani alur cerita.
Penulis tetap mampu menjaga fokus pada dramatisasi kehidupan keluarga kecil asal Tomohon ini, sehingga pembaca tidak merasa sedang membaca buku sejarah, melainkan sedang mengintip jendela kehidupan sebuah keluarga yang sedang remuk.
Secara keseluruhan, tulisan ini adalah sebuah potret yang pilu tentang bagaimana perang saudara tidak hanya merobek tatanan negara, tetapi juga menghancurkan fondasi paling intim dalam hidup manusia, yakni keluarga.
Ini adalah sebuah pengingat bahwa trauma perang sering kali tidak selesai ketika senjata diletakkan, melainkan terus menghantui hingga akhir hayat.
***
Bobby Revolta (Sastrawan, Penggemar sejarah, kebudayaan, dan budaya populer)










